BALI-PORTAL-NEWS.COMGubernur Bali Made Mangku Pastika mendorong gerakan masif untuk memerangi bahaya narkotika yang belakangan kian mengkhawatirkan. Hal tersebut diutarakannya pada saat diskusi tentang bahaya narkotika yang digelar Yayasan Barisan Anti Narkotika (BANI) di Warung Tresni, Denpasar, Jumat (22/7/2016).

KLIK GAMBAR DI ATAS UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI LEBIH LANJUT !!!

Bicara di hadapan peserta diskusi, Pastika kembali mengingatkan betapa mengerikannya ancaman yang ditimbulkan dari tindakan penyalahgunaan narkotika. “Dalam 2,5 jam, 7 hingga 8 orang mati karena narkotika,” ujarnya. Bertolak dari fakta tersebut, Mantan Kalakhar Badan Narkotika Nasional (BNN) ini wanti-wanti agar masyarakat jangan pernah main-main dengan narkotika.

Lebih jauh, dia juga mendorong gerakan yang lebih masif dalam upaya menangkal bahaya narkotika. Gerakan ini, ujar dia, dapat dimulai dari diri masing-masing. “Selamatkan diri sendiri dulu, baru menyelamatkan kakak, adik dan keluarga terdekat hingga lingkungan sekitar. Ingat, menyelamatkan satu nyawa manusia lebih mulia dibandingkan membuat meru tumpang solas,” ujarnya. Dalam kesempatan itu dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak apatis terhadap perkembangan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Bandara I Gusti Ngurah Rai Layani Pemulangan 4.960 Pekerja Migran Indonesia

Pada bagian lain, Pastika mengapresiasi kebangkitan kembali BANI, sebuah yayasan yang konsen dalam upaya penanganan penyalahgunaan narkotika di Pulau Dewata. Yayasan BANI, ujar Pastika, bukanlah organisasi baru dalam penanganan penyalahgunaan narkotika. Yayasan ini adalah rintisan Gubernur Pastika saat dia menjabat sebagai Kalakhar BNN. “Saya senang kalau sekarang yayasan ini bangkit kembali,” ujar Pastika seraya berharap agar BANI mampu bersinergi dengan BNN dalam penanganan kasus penyalahgunaan narkotika. “Tak cukup hanya mengandalkan BNN karena anggarannya juga terbatas,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala BNN Provinsi Bali Brigjen Pol. Putu Gede Suastawa membeber fakta makin seriusnya ancaman narkotika. Kata Suastawa, jumlah penyalahguna narkotika di wilayah Bali saat ini telah mencapai 61.353 orang atau 2,01 persen dari total jumlah penduduk Bali. Karena tingkat prevalansinya di atas 2 persen, Bali menempati peringkat 11 dalam penyalahgunaan narkotika dan mendapat prioritas dalam penanganan secara nasional. “Salah satu program yang belakangan gencar dilaksanakan adalah rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba,” imbuhnya. Hanya saja, program yang dicanangkan secara nasional mulai tahun 2015 itu belum optimal dalam pelaksanaannya.

Baca Juga :  Lansia, ODGJ dan Penyandang Disabilitas di Klungkung Terima Bantuan CSR

Pada tahun 2015, BNN Provinsi Bali hanya berhasil merehabilitasi 970 korban penyalahgunaan narkotika. “Padahal kita memperoleh kuota 2.900 orang,” tambahnya. Sementara tahun 2016, Bali mendapat kuota untuk merehabilitasi 1.025 korban penyalahguna narkoba dan hingga saat ini baru terealisasi 123 orang. “Artinya kesadaran para korban untuk berobat masih sangat rendah, padahal kita sudah bekerjasama dengan 20 yayasan yang siap mensukseskan program rehabilitasi,” bebernya. Selain itu, RSJ Bangli juga mengembangkan bidang pelayanan penanganan korban penyalahgunaan narkotika. “Kita juga memiliki Lapas Narkotika berkapasitas 30 orang yang belakangan juga dimanfaatkan untuk rawat inap korban narkotika,” cetusnya. Untuk itu, Kepala BNN berharap dukungan dan kerjasama masyarakat untuk melapor jika mengetahui ada pecandu narkotika di lingkungannya.

Sejalan dengan upaya tersebut, BNN Provinsi Bali mengapresiasi kebangkitan kembali Yayasan BANI yang sebelumnya sempat vakum. Dia berharap, keberadaan BANI dapat mengoptimalkan upaya BNN dalam memerangi penyalahgunaan narkotika.

Baca Juga :  Denpasar Kembali Salurkan Bantuan Kepada Pelaku Pariwisata yang di PHK

Dalam diskusi yang dipandu moderator Iwan Dharmawan tersebut mengemuka sejumlah pendapat dari para peserta. I Made Gede Ray Misno yang merupakan tokoh masyarakat dari Denpasar mengatakan bahwa penyalahgunaan narkotika sudah merambah hingga ke daerah pedesaan. “Korban narkotika pun tak memandang status sosial,” ujarnya. Untuk itu dia berharap adanya langkah penanganan yang lebih baik terhadap persoalan yang menjadi kekhawatiran sebagian besar orang tua ini. Kekhawatiran senada disampaikan kalangan pelajar dan mahasiswa yang hadir dalam diskusi tersebut. “Kalau mau menghancurkan sebuah negara, maka alat yang paling efektif adalah narkotika,” ujar Aris seorang mahasiswa sosiologi mengibaratkan besarnya ancaman narkotika.

Sementara itu Ketua Yayasan BANI Nyoman Bhaskara menyampaikan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan lebih banyak bergerak dalam upaya pencegahan. BANI akan melakukan relaunching pada Sabtu (23/7/2016) yang masih dalam suasana peringatan Hari Anak Nasional. “Kami ingin BANI menjadi generator untuk menstimulan gerakan masyarakat anti narkotika,” pungkasnya.

Sumber : Humas Pemprov Bali