ESG
ITDC Terapkan Prinsip ESG dan Ekonomi Sirkuler Lewat “Integrated Food Surplus Program” di MotoGP Mandalika 2025. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, MANDALIKA — Sebagai bentuk komitmen terhadap penerapan praktik berkelanjutan di setiap penyelenggaraan event internasional, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mengimplementasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) berbasis Ekonomi Sirkuler melalui program ‘Integrated Food Surplus Program’ selama perhelatan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 pada 3–5 Oktober 2025 di Pertamina Mandalika International Circuit, Kawasan The Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Program ini menjadi langkah konkret ITDC dalam mengelola kelebihan pangan, mengurangi sampah makanan (food waste), serta menekan jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas konsumsi selama berlangsungnya ajang MotoGP Mandalika 2025.

Program pengelolaan makanan berlebih berbasis Ekonomi Sirkuler ini terbagi dalam dua kategori utama.

Pertama, Food Takeaway, yaitu makanan berlebih yang masih layak konsumsi dari area VIP Royal Box, Deluxe, VIP Tent, Kitchen Dorna Sport, dan konsumsi panitia. Makanan ini dikumpulkan, dikemas, dan didistribusikan pada hari yang sama kepada relawan dan masyarakat sekitar, termasuk kelompok anak-anak pengajian di kawasan The Mandalika.

Baca Juga :  Golo Mori Sunset Run 2026 Siap Digelar, Tiket Mulai Dipasarkan

Melalui program ini, ITDC berhasil mengemas 1.000 kotak makanan higienis berukuran 500 ml (sekitar 500 gram) yang masih layak konsumsi. Langkah ini tidak hanya menekan pemborosan makanan, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial nyata bagi komunitas lokal.

Inisiatif ini turut mendukung beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di antaranya:

  • SDG 2 – Zero Hunger, dengan membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
  • SDG 12 – Responsible Consumption and Production, dengan mendorong konsumsi yang bertanggung jawab dan pengelolaan limbah yang efisien.
  • SDG 13 – Climate Action, melalui pengurangan emisi karbon dari sampah makanan.
  • SDG 11 – Sustainable Cities and Communities, dengan memperkuat partisipasi komunitas lokal dalam praktik keberlanjutan.

Sementara itu, kategori kedua yaitu Food Waste, mencakup makanan yang sudah tidak layak konsumsi dan diolah kembali menjadi kompos agar tetap bermanfaat. Bekerja sama dengan komunitas lokal binaan ITDC, Look Up Agro, sebanyak 4,71 ton sampah makanan berhasil dikumpulkan dan disortir. Limbah ini kemudian diolah dengan metode bio-konversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) serta dijadikan kompos organik secara berkelanjutan.

Hasil pengolahan ini menghasilkan dua produk bernilai, pakan ternak dari maggot dan pupuk organik dari kompos. Nantinya, hasil kompos akan dimanfaatkan untuk mendukung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Integrated Farming System ITDC, yang ditujukan bagi para petani binaan di kawasan The Mandalika.

Melalui pendekatan Ekonomi Sirkuler, ITDC menerapkan prinsip bahwa limbah dari satu sektor (event hospitality) dapat menjadi sumber daya bagi sektor lain (pertanian lokal). Langkah ini memperkuat efisiensi sumber daya, mengurangi limbah, serta menekan emisi karbon yang timbul dari pembusukan sisa makanan, salah satu penyebab gas metana, gas rumah kaca yang berpotensi tinggi.

Untuk memastikan klaim carbon neutral memiliki dasar ilmiah, ITDC bekerja sama dengan Control Union, lembaga independen berskala global yang berfokus pada verifikasi dan validasi praktik keberlanjutan. Melalui kolaborasi ini, dilakukan penghitungan jejak karbon, audit pengelolaan limbah, serta penilaian dampak lingkungan secara menyeluruh.

Baca Juga :  Idul Adha 1447 H, ITDC dan Stakeholder Kawasan Salurkan 29 Hewan Kurban

Langkah ini menjadi bukti komitmen ITDC terhadap transparansi, akuntabilitas, dan pengurangan emisi karbon dalam setiap implementasi prinsip ESG yang dijalankan.

“Melalui Integrated Food Surplus Program ini, kami bersama komunitas Bank Sampah dan mitra lokal berkolaborasi untuk memperkuat penerapan Ekonomi Sirkuler. Kami ingin memastikan bahwa setiap upaya ini membawa manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan perusahaan secara berkelanjutan,” ujar Destination Research & ESG Division Head ITDC, Rannie Kamil.

Ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 (MotoGP Mandalika) tidak hanya menjadi tontonan olahraga kelas dunia, tetapi juga momentum penting dalam menunjukkan komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan lingkungan.

Melalui berbagai inisiatif hijau seperti Integrated Food Surplus Program, ITDC berhasil menegaskan bahwa sport tourism juga dapat menjadi katalisator perubahan menuju masa depan yang lebih hijau, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.(r/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News