
BALIPORTALNEWS.COM, MANGUPURA – Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya dan menumbuhkan cinta budaya sejak dini melalui rangkaian program edukatif dan inspiratif bertajuk Budaya Literasi Seni Musik dan Tari Bali.
Hingga akhir semester pertama 2025, GWK telah mengundang lebih dari 500 siswa Sekolah Dasar dari berbagai wilayah di Bali untuk ikut serta dalam pengalaman belajar budaya yang unik dan mengesankan. Sejak pertama kali diselenggarakan di tahun 2022, CSR Budaya Literasi GWK Cultural Park telah menelurkan lebih dari 2.500 siswa Sekolah Dasar di Bali untuk mendapatkan pembelajaran interaktif mengenai budaya Bali di GWK Cultural Park.
Program ini menjadi bagian dari inisiatif keberlanjutan CSR PT Alam Sutera Realty Tbk melalui anak perusahaannya, PT Garuda Adhimatra Indonesia, yang menekankan pentingnya budaya literasi tidak hanya melalui membaca dan menulis, tetapi juga melalui pengalaman artistik yang membentuk karakter dan kecintaan terhadap budaya lokal.
Direktur Operasional Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, Ch. Rossie Andriani mengatakan, budaya literasi tidak selalu harus datang dari buku. Di GWK, pihaknya ingin menunjukkan bahwa literasi juga bisa hadir lewat tarian, musik, film, dan interaksi langsung dengan warisan budaya.
“Kami bangga telah menyambut lebih dari lima ratus siswa hanya dalam enam bulan pertama 2025. Ini adalah bukti bahwa semangat literasi budaya hidup di hati anak-anak Bali,” ujar Ch. Rossie Andriani.
Kegiatan yang dikemas dalam format edukatif dan hiburan ini dimulai dengan pemutaran film animasi ‘Petualangan Garuda Cilik’ di Garuda Sineloka, yang sarat akan pesan moral tentang keberanian, kesetiaan, dan filosofi budaya Nusantara. Film pendek peraih Piala Citra 2015 ini selalu menjadi pembuka yang membangkitkan antusiasme anak-anak sebelum mereka diajak menjelajahi area ikonik GWK, termasuk Plaza Wisnu dan Jembatan Titian Garuda yang kini menjadi salah satu spot favorit untuk edukasi dan foto bersama.
Tak hanya menyaksikan, para siswa juga aktif terlibat langsung dalam kegiatan seni, mulai dari memainkan alat musik tradisional Bali seperti gamelan dan angklung di Amphitheatre, hingga belajar gerakan dasar Tari Bali seperti Tari Sekar Jepun dan Kebyar Duduk bersama para penari profesional GWK. Dengan konsep interaktif dan pendekatan pengalaman langsung, program ini tidak hanya memperkenalkan budaya Bali, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kekompakan, dan kecintaan terhadap seni sejak usia dini.
“GWK berkomitmen menjadikan taman budaya ini sebagai rumah belajar budaya yang terbuka bagi generasi penerus. Kami akan terus memperluas jangkauan program ini ke lebih banyak sekolah di Bali dan kedepannya kami akan melakukan pendekatan keluar Bali agar lebih banyak anak Indonesia mengenal dan mencintai budaya mereka sendiri,” lanjut Rossie.
GWK Cultural Park sendiri setiap harinya menyajikan pertunjukan seni budaya secara reguler, dari pukul 11.00 hingga 18.00 WITA, di berbagai titik seperti Amphitheatre, Plaza Wisnu, dan Lotus Pond. Ini merupakan bagian dari upaya GWK dalam menjadikan kawasan ini sebagai pusat pelestarian budaya yang dinamis dan dapat dinikmati oleh semua kalangan, terutama generasi muda.(r/bpn)












