
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Hotel Griya Santrian di Sanur merayakan hari jadinya yang ke-53 dengan penuh makna. Dalam usia lebih dari setengah abad, hotel milik pengusaha lokal ini terus menunjukkan eksistensinya di tengah dinamika industri pariwisata Bali, termasuk badai pandemi COVID-19 yang sempat meluluhlantakkan sektor perhotelan di Pulau Dewata.
Dengan tema “Walking On The Milestone of 53 Years”, perayaan ulang tahun kali ini ditandai dengan kegiatan simbolis berupa pelepasan tukik (anak penyu) ke laut, sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup, khususnya ekosistem laut di kawasan pesisir Sanur. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (26/5/2025) dan dihadiri oleh puluhan tamu, komunitas lokal, serta para staf hotel.
Pemilik Griya Santrian, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA., yang akrab disapa Gusde, menyampaikan bahwa usia 53 tahun merupakan tonggak semangat baru bagi pihaknya untuk terus meningkatkan profesionalisme dan pelayanan kepada tamu.
“Usia ke-53 ini merupakan spirit buat kita untuk tetap berkarya dan ke depan akan lebih profesional. Kami berkomitmen menjaga nilai-nilai pelayanan lokal Bali, namun tetap mengedepankan standar internasional,” ujar Gusde usai prosesi pelepasan tukik di pantai Griya Santrian.
Meski sektor pariwisata Bali masih menunjukkan tren fluktuatif pasca pandemi, Hotel Griya Santrian tetap menjadi pilihan favorit wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa dan Australia. Bahkan, Gusde mengungkapkan bahwa banyak tamu yang sudah berkali-kali kembali menginap di hotel tersebut.
“Rata-rata tamu yang datang ke sini adalah tamu repeat guest. Bahkan ada satu keluarga yang sudah lima generasi tetap memilih menginap di Hotel Griya Santrian. Ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan emosional tamu dengan hotel kami,” katanya.

Hotel yang berlokasi strategis di kawasan Sanur ini saat ini memiliki 130 kamar dan mempekerjakan sekitar 350 karyawan, sebagian besar berasal dari masyarakat lokal. Selama lebih dari lima dekade, hotel ini tidak hanya menjadi saksi perkembangan pariwisata Sanur, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat sekitar.
Salah satu mantan karyawan senior, Wayan Tamiarta, yang telah mengabdi puluhan tahun di Griya Santrian, turut hadir dalam perayaan HUT ke-53. Ia mengungkapkan bahwa Griya Santrian memiliki daya tarik emosional tersendiri bagi para tamunya.
“Ini dikatakan Hotel Nostalgia bagi wisatawan yang datang ke sini. Menurut mereka, hotel ini nyaman dan karyawannya sangat ramah. Banyak tamu yang merasa seperti pulang ke rumah sendiri setiap kali menginap di sini,” ujarnya penuh haru.
Sebagai bagian dari perayaan ulang tahun, sebanyak 53 ekor tukik penyu dilepaskan ke laut dari pantai Griya Santrian. Prosesi ini bukan hanya sekadar simbolik, tetapi juga bentuk nyata komitmen hotel terhadap pelestarian lingkungan.
Pantai Griya Santrian sendiri sejak lama menjadi salah satu habitat alami penyu untuk bertelur. Oleh karena itu, kegiatan pelepasan tukik yang telah menjadi tradisi tahunan hotel ini memiliki nilai penting dalam menjaga kelangsungan spesies penyu di kawasan Sanur.
Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi tamu hotel dan masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengedukasi komunitas dan tamu dari seluruh penjuru dunia bahwa setiap individu dapat berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. Penyu adalah bagian penting dari ekosistem laut dan sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya,” tambah Gusde.
Dengan perjalanan panjang yang telah ditempuh sejak pertama kali berdiri pada tahun 1972, Hotel Griya Santrian terus berbenah dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Penggabungan antara sentuhan budaya lokal, keramahan khas Bali, dan pelayanan profesional menjadi kekuatan utama yang menjadikan hotel ini tetap relevan hingga kini.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat kualitas layanan, memperhatikan aspek keberlanjutan, dan membangun relasi jangka panjang dengan tamu. Kami tidak hanya menjual kamar, tetapi juga pengalaman dan kenangan,” tutup Gusde.
Hotel Griya Santrian tidak sekadar tempat menginap, tetapi telah menjadi bagian dari sejarah pariwisata Bali dan simbol keberhasilan pengusaha lokal yang mampu bertahan, tumbuh, dan memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.(ads/bpn)












