Pura Swagina
Desa Adat Sebudi Bangun Kembali Pura Swagina Setelah Setengah Abad Rusak. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Setelah lebih dari lima dekade rusak akibat erupsi Gunung Agung pada tahun 1963, warga Desa Adat Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem, akhirnya berhasil membangun kembali Pura Swagina, tempat berstana Ida Ratu Bagus Bebotoh dan Ida Ayu Mas Melanting.

Menurut Jero Mangku Tirta, Ketua Panitia Pembangunan Pura Swagina, sebelum erupsi Gunung Agung, di Desa Sebudi terdapat dua pura, yakni Pura tempat berstana Ida Ratu Bagus Bebotoh di selatan desa dan Pura tempat berstana Ida Ayu Mas Melanting di utara desa. Namun, kedua pura tersebut mengalami kerusakan parah akibat erupsi.

Baca Juga :  BRI Peduli Serahkan Bantuan CSR Renovasi Balai Serba Guna Banjar Dinas Pakel

“Setelah bertahun-tahun kami belum mampu membangun kembali kedua pura tersebut. Akhirnya, pada 9 Juni 2021, kami memulai peletakan batu pertama untuk pembangunan Pura ini dengan dana swadaya,” kata Mangku Tirta saat pelaksanaan upacara melaspas, pemarisuda, ngersigana, dan ngelinggihang Ida Bhatara ke Pura Swagina, Kamis (17/10/2024).

Nama ‘Pura Swagina’ mencerminkan fungsinya sebagai tempat pemujaan dan ungkapan rasa syukur atas kelancaran pekerjaan, penghidupan, dan kemakmuran yang diberikan. Piodalan di pura ini dilaksanakan setiap sasih kasa, tepat sebelum para petani memulai musim tanam padi dan berkebun. Dalam upacara Pecaruan Pangendag, digunakan korban suci berupa Banteng Hitam sebagai simbol untuk menetralisir energi negatif, sehingga tanaman dapat tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah.

Baca Juga :  BRI Peduli Serahkan Bantuan CSR Renovasi Balai Serba Guna Banjar Dinas Pakel

“Tiga bulan setelahnya, tepat pada Purnama sasih Kapat, dilakukan upacara Usaba Nini sebagai wujud syukur atas hasil panen yang berlimpah,” tambah Mangku Tirta.

Pura Swagina yang berdiri di atas lahan seluas 10 are ini dibangun dengan biaya sekitar Rp1,6 miliar. Pembangunan meliputi pelinggih, tembok, candi, hingga kori agung yang menggunakan batu hitam khas Karangasem. Dana pembangunan berasal dari sumbangan pihak ketiga, pengusaha, dan warga, tanpa ada pungutan khusus dari warga. Hingga saat ini, Ketua Panitia Pembangunan masih menalangi kekurangan dana sekitar Rp700 juta.(st/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News