BALIPORTALNEWS.COM, NTB – Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) mengaku optimis capai target terjaganya masa depan laut untuk kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia, melalui pelaksanaan program Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP – CTI) Asian Development Bank (ADB), akan berakhir pada Agustus 2023 mendatang, dalam acara workshop perisapan di Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Kamis (13/7/2023).
“Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari program ini dan juga model pengelolaan yang melibatkan masyarakat dapat diadopsi tidak hanya oleh masyarakat namun juga oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait lainnya,” ucap Sri Yanti, Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas dalam kegiatan workshop.
Kedepannya, melalui pelaksanaan program tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 14 (SDG 14), terkait perlindungan sumber daya alam laut dan pengelolaan perikanan secara berkelanjutan, serta mendukung peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi dan target pencapaian 30% luas kawasan konservasi perairan pada tahun 2045.
“Harapan kami kedepan program rehabilitasi dapat diadaptasi maupun menjadi replikasi bagi wilayah lainnya. Program ini merupakan program inovasi pembangunan. Oleh sebab itu, champion-champion di daerah kedepan bisa terus mempertahankan program yang sudah dilaksanakan,” tambahnya.
Sejak tahun 2020 ICCTF Bappenas telah melaksanakan program, merupakan bagian dari rencana jangka panjang COREMAP sejak tahun 1998 sebagai upaya perlindungan terumbu karang dan ekosistem pesisir prioritas, diharapkan dapat menjadi model pengelolaan pesisir di Indonesia.
“Hasil-hasil baik dari COREMAP-CTI ADB yang mendukung program pemerintah daerah tidak berakhir dengan berakhirnya proyek tapi dapat tetap bermanfaat dan berkelanjutan, yang tentunya akan tercapai apabila ada komitmen dari semua pihak terutama pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemeliharaan dan juga pemanfaatannya,” jelas Dr. Tonny Wagey, Direktur Eksekutif Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF).
Sementara itu, para nelayan penerima manfaat dari program COREMAP-CTI di Gili Matra menyatakan bahwa, sebagai nelayan lokal merasa sangat terbantu oleh COREMAP-CTI, berkat sarana alat tangkap yang diberikan, COREMAP-CTI juga memberikan pengetahuan untuk memanfaatkan habitat laut.
“Contohnya seperti alat tangkap apa yang ramah lingkungan bawah laut, ikan apa saja yang dilindungi atau bisa ditangkap, dan titik aman untuk nelayan. Dampak perbedaan yang dirasakan, kami merasa COREMAP-CTI tidak hanya memperhatikan lingkungan namun juga kita sebagai manusianya turut diperhatikan dan dilibatkan untuk melestarikan alam,” ujar penerima manfaat Kelompok Nelayan Gili Trawangan.
Program ini juga membangun sarana prasarana yang dapat mendukung pengelolaan kawasan konservasi. Pusat informasi wisata adalah salah satu sarana yang dibangun di area Gili Matra, diharapkan dapat mendukung pengembangan wisata dan memberikan informasi tentang pariwisata yang berkelanjutan.
Pusat informasi ini dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara bersama kelompok masyarakat seperti POKDARWIS (kelompok sadar wisata), dan POKMASWAS (kelompok pengawas) di wilayah tersebut.
Pusat informasi juga dibangun pada area Gili Balu yaitu Pelabuhan Poto Tano. Pusat informasi ini dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat bersama kelompok masyarakat seperti Pokdarwis (kelompok sadar wisata) dan Poklahsar (kelompok pengolahan dan pemasaran).
“Apa yang dihasilkan oleh COREMAP-CTI ADB dapat membantu pemerintah daerah dan masyarakat Gili Matra dan Gili Balu dalam memanfaatkan sumber daya alam laut yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir,” tutup Sri. (aar/bpn)













