BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Rangkaian kegiatan D’Youth Fest 6.0 melalui BKRAF Denpasar menghadirkan Creative City Talk pada Rabu (15/7/2026) di Dharma Negara Alaya, yakni ruang diskusi bagi pelaku ekonomi kreatif, komunitas, dan kalangan profesional untuk mendorong lahirnya gagasan kreatif bagi pembangunan Kota Denpasar sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di daerah.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan GEKRAFS Provinsi Bali, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII), Ikatan Ahli Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) tersebut mengangkat tema “Ide Kreatif, Kota Inspiratif, Masa Depan Denpasar”.

Ketua Harian BKRAF Denpasar sekaligus Ketua DPW GEKRAFS Provinsi Bali, Ari Setiya Wibawa menjelaskan, forum tersebut menjadi wadah bagi para perancang dan komunitas kreatif untuk menyampaikan gagasan yang nantinya akan didokumentasikan dan diserahkan kepada Pemerintah Kota Denpasar sebagai usulan kebijakan maupun pengembangan kota.
“Ini bukan sayembara, tetapi ruang untuk menghimpun ide-ide kreatif dari anak-anak muda yang kemudian kami serahkan kepada pemerintah kota. Beberapa usulan bahkan sudah direalisasikan, seperti mural-mural di sejumlah titik Kota Denpasar yang kini tengah dikembangkan menjadi master plan mural,” ujar Ari.
Selain membahas pengembangan desain kota, forum diskusi ini juga menghadirkan pelaku ekonomi kreatif yakni Ketua DPC GEKRAFS Karo, Amsal Sitepu sebagai pembicara. Dalam sesi berbagi pengalaman, Amsal menceritakan perjalanan hidupnya, termasuk pengalaman menghadapi persoalan hukum yang sempat menyita perhatian publik serta perjalanan “131 Hari Jelajah Nusantara” dari Sabang hingga Merauke.
Saat ini, perjalanan tersebut telah memasuki hari ke-73 dengan Bali menjadi provinsi ke-15 yang dikunjungi. Menurut Amsal, tujuan utama perjalanan tersebut adalah menghimpun aspirasi para pelaku ekonomi kreatif di berbagai daerah.
“Fokus perjalanan ini adalah menjemput aspirasi teman-teman pelaku ekonomi kreatif sekaligus berbagi pengalaman tentang perjalanan yang pernah saya alami, mulai dari awal kasus hingga selesai. Harapannya pengalaman itu bisa menjadi pembelajaran bagi pelaku ekonomi kreatif lainnya,” kata Amsal.
Dari 73 hari perjalanan dan 41 titik diskusi yang telah dilaksanakan, Amsal menemukan bahwa persoalan terbesar yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif adalah rasa takut bekerja sama dengan pemerintah akibat kekhawatiran terhadap persoalan hukum.
Ia menilai, kondisi tersebut perlu segera direspons melalui kebijakan yang mampu memberikan perlindungan hukum sekaligus ruang komunikasi yang lebih baik antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan pelaku ekonomi kreatif.
“Aspirasi yang paling banyak kami temukan adalah pelaku ekonomi kreatif takut bekerja sama dengan pemerintah. Karena itu kami ingin mendorong kebijakan agar penyelesaian persoalan lebih mengedepankan pendekatan administratif daripada pidana sehingga rasa takut itu bisa hilang,” jelas Amsal.
Menurutnya, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak pada melemahnya ekosistem ekonomi kreatif dan menurunnya kualitas pelaksanaan proyek pemerintah yang seharusnya dikerjakan oleh tenaga profesional di bidangnya.
Selain perlindungan hukum, hasil perjalanan tersebut juga menunjukkan perlunya kebijakan yang mampu memperkecil kesenjangan antara kreator di daerah dan di pusat.
“Kami ingin mendorong kebijakan yang melindungi karya pelaku ekonomi kreatif dan memberikan ruang lebih besar bagi kreator daerah agar mereka bisa berkembang serta bersaing dengan kreator di pusat,” tambah Amsal.
Sementara itu, Ari Setiya Wibawa menilai prospek ekonomi kreatif di Kota Denpasar terus menunjukkan tren positif. Sebagai ibu kota Provinsi Bali, Denpasar dinilai memiliki potensi besar karena didukung banyak anak muda dengan beragam ide kreatif di sektor fesyen, kriya, hingga industri kreatif lainnya.
“Peluangnya sangat baik. Denpasar memiliki banyak komunitas kreatif dengan ide-ide baru. Saat ini yang juga sedang kami dorong adalah pengembangan industri perfilman,” ungkap Ari.
Ia menambahkan, seluruh rangkaian D’Youth Fest 6.0 memang difokuskan untuk mendorong partisipasi generasi muda melalui berbagai komunitas. Meski demikian, peran para senior tetap dibutuhkan sebagai pembimbing agar kreativitas generasi muda dapat berkembang secara terarah dan berkelanjutan.(dnd/bpn)













