
BALIPORTALNEWS.COM, MANGUPURA – Duta Kabupaten Badung kembali mencuri perhatian dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Sebanyak 70 seniman dari Sanggar Seni Dharmawangsa, Banjar Sedang Kelod, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, menghadirkan sajian memikat pada Utsawa (Parade) Palegongan Klasik Khas yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (28/6/2026).
Mengusung semangat pelestarian seni klasik yang dipadukan dengan eksplorasi artistik, Duta Badung membawakan empat garapan, yakni Tari Palegongan Kreasi “Nyrigśa”, Tabuh Palegongan Klasik “Solo”, Tari Palegongan Klasik “Legod Bawa”, serta Tabuh Palegongan Kreasi “Rong Telu”. Seluruh sajian selaras dengan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, yang mengedepankan pemuliaan jiwa melalui seni dan budaya.
Penata pertunjukan, Ida Bagus Yodhie Harischandra, yang akrab disapa Gusde, mengatakan proses penggarapan melibatkan sekitar 70 orang, mulai dari penari, penabuh, tim artistik hingga pendukung pertunjukan.
“Penampilan tahun ini melibatkan sekitar 70 orang. Kami ingin menghadirkan sajian yang tidak hanya kuat secara teknik, tetapi juga mampu menyampaikan pesan filosofis dan spiritual kepada penonton melalui bahasa Palegongan,” ujarnya.
Menurut Gusde, garapan utama yang menjadi fokus pertunjukan adalah Tari Palegongan Kreasi “Nyrigśa”, yang merepresentasikan perjalanan batin manusia dalam menemukan kesadaran diri. Melalui bahasa gerak Legong, karya tersebut menggambarkan bahwa pencarian jati diri merupakan proses panjang yang harus dilalui dengan keberanian menembus berbagai lapisan identitas hingga menemukan hakikat kehidupan.
“Nyrigśa kami hadirkan sebagai refleksi perjalanan spiritual. Legong bukan hanya dipandang sebagai bentuk tari, tetapi menjadi media untuk memahami diri sendiri dan menemukan harmoni jiwa,” jelasnya.
Selain karya kreasi tersebut, Sanggar Seni Dharmawangsa juga membawakan Tabuh Palegongan Klasik “Solo”, salah satu karya monumental maestro gamelan Bali, I Wayan Lotring. Gending yang lahir setelah Lotring tampil di Keraton Solo pada 1926 itu memadukan nuansa musik Jawa dengan karakter gamelan Palegongan Bali, menghasilkan komposisi yang lembut, syahdu, namun tetap dinamis.
Suasana klasik semakin terasa melalui pementasan Tari Palegongan “Legod Bawa” yang mengangkat kisah perdebatan kesaktian antara Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Cerita tersebut berpuncak pada ujian Dewa Siwa melalui lingga suci sebagai simbol bahwa tidak ada kekuatan yang melampaui kemahakuasaan-Nya. Nilai kerendahan hati, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap kekuatan ilahi menjadi pesan utama yang disampaikan dalam garapan tersebut.
Sebagai penutup, Duta Badung menyuguhkan Tabuh Palegongan Kreasi “Rong Telu” bertema Ananta Atma Kertih. Melalui eksplorasi bunyi gamelan Palegongan, karya ini memaknai “Rong Telu” bukan sebagai simbol kematian, melainkan perjalanan jiwa menuju kesadaran yang lebih tinggi, meninggalkan dualitas kehidupan untuk mencapai ketenangan batin.
Gusde menegaskan, seluruh garapan dirancang sebagai bukti bahwa seni tradisi Bali mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budaya yang diwariskan para leluhur.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa Palegongan bukan hanya warisan klasik yang harus dijaga, tetapi juga ruang untuk terus berkarya, berefleksi, dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” katanya.
Ia berharap penampilan Duta Kabupaten Badung di PKB XLVIII Tahun 2026 tidak hanya menjadi tontonan yang memanjakan mata, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni budaya Bali.
Melalui perpaduan sejarah, filosofi, spiritualitas, dan kreativitas, Sanggar Seni Dharmawangsa menghadirkan pertunjukan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga menjadi media edukasi dalam menjaga keberlanjutan seni Palegongan sebagai warisan budaya Bali bagi generasi mendatang.(adv/bpn)












