BALIPORTALNEWS.COM, MANGUPURA – Duta Kabupaten Badung kembali mencuri perhatian dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Sanggar Seni Guntur Madu dari Banjar Pundung, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, sukses memukau ribuan penonton melalui penampilan pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (28/6/2026) malam.
Melibatkan 75 seniman perempuan, Duta Badung menyuguhkan tiga garapan yang memadukan kekuatan musikalitas, tari, dan pesan filosofis, yakni Tabuh Kreasi “Panga Sani”, Tari Kreasi “Wana Pering”, serta Sandya Gita “Jiwa Anubhawa”. Ketiga karya tersebut mengusung semangat Atma Kerthi yang menjadi tema besar PKB tahun ini.
Pembina sekaligus Komposer Tabuh Kreasi, I Putu Sofiarta, S.Sn, mengatakan seluruh persiapan dilakukan selama kurang lebih lima bulan. Meski sebagian besar penabuh masih berstatus mahasiswa dan pekerja sehingga penjadwalan latihan menjadi tantangan tersendiri, seluruh tim tetap mampu menjaga komitmen hingga tampil maksimal di panggung PKB.
“Target kami sebagai Duta Kabupaten Badung adalah memberikan penampilan yang menggelegar dan semaksimal mungkin. Kami berharap krama Badung dan krama Bali bisa menerima karya-karya yang kami tampilkan,” ujarnya.
Garapan pembuka bertajuk Panga Sani mengangkat pergulatan batin seorang perempuan yang terjebak dalam godaan kepuasan sesaat hingga kehilangan arah hidup. Melalui dinamika tabuh Gong Kebyar yang energik dan penuh perubahan suasana, karya tersebut mengajak penonton melakukan refleksi untuk menaklukkan ego serta kembali menjadikan suara hati sebagai penuntun kehidupan.
Selanjutnya, Tari Kreasi Wana Pering menghadirkan filosofi hutan bambu yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain memiliki fungsi dalam tradisi adat dan ritual keagamaan, bambu juga dimaknai sebagai simbol ketulusan, kelenturan, kekuatan, dan keharmonisan.
“Melalui gerak tari dan iringan musik, Wana Pering menggambarkan perjalanan jiwa yang terus bertumbuh, menyucikan diri, dan hidup selaras dengan semesta,” jelas Sofiarta.
Sebagai penutup, Duta Badung membawakan Sandya Gita berjudul Jiwa Anubhawa yang terinspirasi dari Lontar Atma Prasangsa. Garapan ini mengisahkan perjalanan atma menuju kesadaran sejati setelah terlepas dari raga. Dalam pengembaraan spiritual tersebut, sang atma menghadapi berbagai rintangan hingga akhirnya menyadari bahwa seluruh ketakutan dan hambatan merupakan cerminan dirinya sendiri.
Perpaduan tari, tabuh, vokal, dramatika, dan visual artistik menghadirkan sajian yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak penonton memahami makna kehidupan, mengenali jati diri, dan membangun hubungan harmonis dengan Sang Pencipta.
“Melalui perpaduan tari, musik, vokal, dramatika, dan visual artistik, karya ini menyampaikan pesan tentang pentingnya mengenali jati diri, memahami asal dan tujuan hidup, serta mencapai keharmonisan batin dan penyatuan dengan Sang Pencipta,” ungkapnya.
Penampilan Duta Badung turut disaksikan langsung oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Badung. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan moril bagi para seniman yang membawa nama daerah di panggung PKB.
Adi Arnawa memberikan apresiasi terhadap penampilan Duta Badung yang tampil berdampingan dengan Duta Kabupaten Gianyar. Menurutnya, selain menjadi ajang unjuk kreativitas, parade tersebut juga menunjukkan semangat kolaborasi antardaerah.
“Ini menunjukkan bahwa dalam membangun seni dibutuhkan kebersamaan dan kerja sama yang baik. Mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan masing-masing, tetapi juga membangun sinergi dalam penampilan. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.
Ia menilai kekompakan yang terjalin di atas panggung bahkan mendapat apresiasi dari Gubernur Bali karena mampu menghadirkan kolaborasi tanpa menghilangkan karakter masing-masing daerah.
Saat diminta membandingkan kualitas penampilan kedua duta, Adi Arnawa menilai keduanya sama-sama tampil memukau. Namun, menurutnya, Duta Kabupaten Badung memiliki keunggulan pada kekuatan substansi cerita yang diangkat dalam setiap garapan.
“Kalau saya ditanya mana yang lebih bagus, tentu saya jawab Badung. Tetapi saya melihat dua-duanya bagus, hanya saja dari sisi substansi cerita, Badung lebih kuat,” tegasnya.
Melalui perpaduan kreativitas, filosofi, dan kekuatan musikalitas perempuan Bali, Duta Kabupaten Badung kembali membuktikan komitmennya dalam menjaga sekaligus mengembangkan seni tradisi sebagai bagian dari identitas budaya yang terus hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.(adv/bpn)













