BALIPORTALNEWS.COM, NUSA DUA – Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya, menekankan pentingnya strategi jangka pendek dalam menangani persoalan sampah di Bali, khususnya di wilayah Denpasar dan Badung yang menjadi penyumbang terbesar.
Menurutnya, rencana pengolahan sampah berbasis teknologi seperti PSEL (Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik) membutuhkan waktu cukup panjang untuk direalisasikan.
“Kalau kita bicara pengolahan sampah jadi energi listrik, itu butuh waktu. Minimal delapan bulan sampai satu tahun untuk mulai berjalan. Kalau groundbreaking nanti Juli, kita harus pikirkan dua tahun ke depan ini bagaimana,” ujarnya saat ditemui di Nusa Dua, Selasa (28/4/2026).
Ia menyebutkan, produksi sampah di Denpasar mencapai sekitar 1.000 ton per hari, sementara Badung sekitar 876 ton per hari. Jumlah tersebut dinilai sangat besar dan membutuhkan solusi cepat serta terukur.
Menurut Rai Suryawijaya, konsep pengolahan berbasis teba modern saja tidak cukup untuk menampung volume sampah yang terus meningkat. “Teba modern itu cepat penuh, dan proses jadi kompos juga butuh waktu sampai 4–6 bulan. Jadi tidak bisa jadi solusi utama,” jelasnya.
Sebagai alternatif, ia mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan sampah yang lebih cepat. “Sekarang sudah ada teknologi yang bisa mengolah sampah organik jadi kompos dalam waktu 4–6 jam. Ini yang perlu didorong,” katanya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. “Harus dibiasakan memilah sampah, mana organik, non-organik, dan residu. Karena sekitar 70 persen sampah kita itu organik,” tegasnya.
Di sektor pariwisata, khususnya hotel dan restoran, Rai Suryawijaya menyebut praktik pemilahan sampah sebenarnya sudah menjadi kebiasaan. “Sebagian besar hotel dan restoran sudah memilah sampahnya. Mereka juga sudah membayar jasa transporter,” ungkapnya.
Namun demikian, tidak semua hotel mampu mengelola sampah secara mandiri karena keterbatasan lahan dan pertimbangan kenyamanan tamu. “Tidak semua hotel bisa mengolah sampah di dalam area. Kalau dipaksakan, bisa mengganggu kenyamanan tamu. Padahal kita menjual hospitality yang bersih dan lingkungan yang hijau,” jelasnya.
Ia pun menegaskan bahwa penanganan sampah harus menjadi perhatian serius, karena berpotensi memengaruhi citra pariwisata Bali. “Kalau tidak ditangani dengan baik, ini bisa berdampak pada citra Bali sebagai destinasi wisata,” tutupnya.(tis/bpn)













