Perdana, Yadnya Prawerti Parisada Beri Pelayanan Umat Lewat Sapuh Leger Massal
Perdana, Yadnya Prawerti Parisada Beri Pelayanan Umat Lewat Sapuh Leger Massal. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Upacara Sapuh Leger Massal perdana yang diselenggarakan oleh Yadnya Prawerti Parisada (YPP) berlangsung khidmat di lingkungan Kampus STKIP Agama Hindu Amlapura, Minggu (8/3/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 64 peserta dari berbagai wilayah di Bali yang lahir pada Wuku Wayang dalam penanggalan Bali.

Pelaksanaan upacara tersebut menjadi langkah awal pelayanan spiritual yang diinisiasi Yayasan Perguruan Parisada Amlapura bersama STKIP Agama Hindu Amlapura. Kegiatan ini juga menandai hadirnya Yadnya Prawerti Parisada (YPP) sebagai lembaga yang akan memberikan pelayanan upacara keagamaan kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Ketua Yayasan Perguruan Parisada Amlapura, Ide Bagus Mantra, menjelaskan bahwa kegiatan Sapuh Leger Massal tidak hanya bertujuan memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi sarana praktik pendidikan bagi mahasiswa.

“Melalui kegiatan ini mahasiswa dapat belajar secara langsung bagaimana pelaksanaan upacara yadnya sesuai dengan sastra agama. Kegiatan ini murni untuk mendukung pendidikan sekaligus pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk menjaga keberlanjutan pelayanan tersebut, yayasan telah membentuk badan khusus bernama Yadnya Prawerti Parisada yang bertugas mengelola berbagai kegiatan upacara keagamaan secara profesional dan berkelanjutan.

“Ke depan, berbagai pelayanan upacara keagamaan akan dikelola melalui Yadnya Prawerti Parisada. Rencananya kegiatan berikutnya akan dilaksanakan sekitar tujuh bulan mendatang dengan berbagai jenis upacara lainnya,” tambahnya.

Perdana, Yadnya Prawerti Parisada Beri Pelayanan Umat Lewat Sapuh Leger Massal. Sumber Foto : Istimewa

Sementara itu, Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura, Dr. I Komang Badra, S.Pd., M.Pd.H., menjelaskan bahwa Sapuh Leger merupakan bagian dari rangkaian upacara Bayuh Oton yang secara khusus diperuntukkan bagi mereka yang lahir pada Wuku Wayang.

“Upacara ini bertujuan untuk menetralisir pengaruh negatif dari kelahiran tersebut serta memperkuat unsur positifnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah kehidupan,” jelasnya.

Ia juga berharap ke depan Yadnya Prawerti Parisada dapat terus mengembangkan berbagai pelayanan upacara keagamaan bagi masyarakat Hindu. Tidak hanya Sapuh Leger, tetapi juga upacara lainnya seperti Otonan, Metatah, Pawiwahan, Mewinten hingga Melukat, yang dapat dilaksanakan sesuai kebutuhan umat dengan pilihan sulinggih yang diinginkan.

Koordinator Yadnya Prawerti Parisada sekaligus Ketua Panitia kegiatan, Dr. Ni Putu Gatriyani, S.Pd., M.Pd.H., mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan inisiasi dari Ketua Yayasan Parisada Amlapura bersama Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura untuk memberikan solusi terhadap kebutuhan upacara keagamaan umat, khususnya di wilayah Karangasem.

Menurutnya, meskipun pendaftaran dibuka kurang dari satu bulan, antusiasme masyarakat sangat tinggi sehingga panitia harus membatasi jumlah peserta karena kegiatan ini merupakan pelaksanaan perdana.

“Persiapan kegiatan ini melibatkan kolaborasi antara mahasiswa dan alumni STKIP Agama Hindu Amlapura, terutama dalam pembuatan berbagai sarana upacara. Kegiatan ini juga didukung oleh sulinggih, para pemangku, serta praktisi seni keagamaan seperti Ida Dalang,” jelasnya.

Selain memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa, khususnya BEM serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Bali dan Program Studi Pendidikan Agama Hindu untuk mengimplementasikan ilmu yang dipelajari secara praktis di lapangan.

Dosen STKIP Agama Hindu Amlapura, Dr. Ni Kadek Juliantari, S.Pd., M.Pd., menilai bahwa pelaksanaan upacara secara massal memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya.

“Dengan pelaksanaan secara massal, masyarakat dapat melaksanakan kewajiban upacara dengan lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Hindu, Ayu Widha Erlia, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa secara etimologis Sapuh Leger berasal dari kata sapuh yang berarti membersihkan dan leger yang berarti kotoran.

“Maknanya adalah proses pembersihan jasmani dan rohani. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi laboratorium praktik yang sangat penting karena mereka dapat mengimplementasikan ilmu yang dipelajari di kelas secara langsung,” jelasnya.

Pendapat serupa disampaikan dosen Ni Wayan Apriani, S.Pd., M.Pd., yang menilai kegiatan ini memberikan pengalaman praktik berharga bagi mahasiswa dalam memahami pelaksanaan yadnya secara langsung di lapangan.

“Kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang dipelajari di kelas sekaligus membentuk karakter seperti tanggung jawab, disiplin, dan kejujuran,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu orang tua peserta, I Gede Wenten, yang mendampingi putranya I Gede Ananda Juliantara, mengaku sangat terbantu dengan adanya program Sapuh Leger Massal yang dilaksanakan di STKIP Agama Hindu Amlapura.

“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Semoga ke depan pelayanan seperti ini bisa terus dilaksanakan karena sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai simbolis peluncuran sekaligus penanda dimulainya pelayanan Yadnya Prawerti Parisada kepada umat, kegiatan Sapuh Leger Massal ini diawali dengan pencancapan wayang. Prosesi tersebut menjadi tanda resmi dibukanya program pelayanan upacara keagamaan yang akan dikelola oleh Yadnya Prawerti Parisada.

Melalui kegiatan ini diharapkan Yadnya Prawerti Parisada dapat terus berkembang sebagai lembaga pelayanan upacara keagamaan Hindu yang profesional serta menjadi mitra masyarakat dalam menyelenggarakan yadnya secara tertib, sakral, dan bermakna spiritual. (*/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News