
BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Rapat Dewan Komisioner Bulanan menyoroti kondisi stabilitas sektor jasa keuangan di Indonesia yang tetap terjaga, meski prospek ekonomi global menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Sentimen positif dalam negeri turut diperkuat oleh periode pemotongan suku bunga oleh bank sentral.
Aman Santosa, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, menjelaskan bahwa mayoritas negara utama mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Di Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2024, dengan peningkatan angka pengangguran dan penurunan inflasi. Sementara itu, di Tiongkok, pemulihan ekonomi kehilangan momentum, ditandai dengan perlambatan aktivitas manufaktur dan meningkatnya pengangguran di kalangan anak muda.
“Kondisi ini memicu bank sentral global untuk melakukan penurunan suku bunga secara agresif. The Fed menurunkan Fed Funds Rate sebesar 50 basis poin, langkah yang sebanding dengan krisis keuangan global 2008 dan pandemi COVID-19. Di Tiongkok, People’s Bank of China (PBoC) juga melonggarkan kebijakan moneter dengan penurunan suku bunga serta upaya meningkatkan likuiditas sektor perbankan,” ungkap Aman.
Lebih lanjut, Aman menegaskan bahwa ekonomi domestik Indonesia masih dalam kondisi stabil. Inflasi terkendali, terutama karena penurunan inflasi pangan, sementara neraca perdagangan terus mencatatkan surplus sejak Juli 2024. OJK mencatat bahwa langkah Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 6 persen, bertujuan untuk memperkuat likuiditas dan meningkatkan kemampuan lembaga jasa keuangan dalam menyalurkan pembiayaan.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai rekor tertinggi pada 19 September 2024, dengan angka 7.905,39. Selama bulan September 2024, IHSG naik 0,34 persen menjadi 7.696,92 dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp12.875 triliun.
Sektor pengelolaan investasi juga menunjukkan tren positif, dengan nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp853,53 triliun, naik 1,44 persen month-to-date (mtd). Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) menurun menjadi 2,26 persen.
Dalam rangka meningkatkan literasi keuangan syariah, OJK menggelar Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) yang diikuti oleh 4.373 pelajar dan mahasiswa. OJK juga turut serta dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) oleh KPK untuk evaluasi pencegahan korupsi dan integritas sektor keuangan.
OJK berkomitmen untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berperan aktif dalam memperkuat integritas dan kualitas layanan di industri keuangan. (ads/bpn)












