Sampah Daur Ulang
#SayNoToStyrofoam Berdayakan Perempuan Lewat Sampah Daur Ulang. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Sampah styrofoam menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup masyarakat kepulauan serta lingkungan hidup yang harus segera dibenahi. Ancaman sampah styrofoam atau sampah plastik masih banyak ditemukan di berbagai Kepulauan di Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari data Administrasi Perekonomian dan Pembangunan di Kepulauan Seribu dimana menunjukkan 70 persen sampah harus dikirim ke Jakarta, termasuk limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) menggunakan kapal pengangkut sampah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, dikutip pada Jumat (23/12/2022).

The Antheia Project bersama Universitas Paramadina dan Taman Nasional Kepulauan Seribu melihat ancaman kerusakan lingkungan masyarakat khususnya di Pulau Harapan dapat dibenahi dengan memberdayakan perempuan. Sampah styrofoam atau plastik dapat diubah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Melalui workshop The Antheia Project berkolaborasi memberikan solusi nyata mengatasi masalah lingkungan juga sekaligus mengubah perilaku masyarakat agar memilih gaya hidup yang sustainable.

Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), 40 persen sampah di Indonesia dihasilkan oleh rumah tangga. Setiap rumah tangga ada peran penting dari seorang perempuan untuk bisa mengatasi masalah sampah. Perempuan memiliki peran bagaimana mengurangi secara aksi, dan mengedukasi anggota keluarga serta masyarakat sekitar. Perempuan dapat menjadi sosok sentral dalam rumah tangga yang siap menjadi agent of change. Perubahan tingkah laku tersebut itu dapat dimulai salah satunya lewat peran para ibu rumah tangga, dengan melakukan perubahan perilaku dengan mengurangi sampah dengan memakai prinsip reduce, reuse, recycle (3R), dan mulai melakukan penanganan sampah rumah tangga yaitu dengan melakukan proses memilah, mengumpulkan, dan mengolah sampah rumah tangga.

The Antheia Project berinisiatif untuk membuat program bimbingan teknis untuk para perempuan di Pulau Harapan mengubah sampah styrofoam dan plastik atau sisa makanan dan minuman kemasan menjadi sebuah produk yang berharga kepada masyarakat. Perempuan yang telah diberikan edukasi pengolahan sampah yang baik diharapkan dapat menjadi penggagas yang akan menyebarkan pemahamannya tentang pentingnya merubah cara pikir masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Perubahan budaya dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penanganan sampah di tingkat hilir, yaitu berkurang angka timbulan sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Baca Juga :  KemenPPPA RI Dorong Pembentukan UPTD PPA di Buleleng

Workshop yang bertema #SayNoToStyrofoam ‘Memberdayakan Perempuan Lewat Sampah Daur Ulang’ adalah sebuah pengembangan kapasitas bagi ibu-ibu mengelola limbah terutama styrofoam, plastik, kain dan karet. Sampah akan menjadi berbentuk barang-barang daur ulang yang sudah dibuat akan dijual di toko souvenir Pulau Harapan, agar wisatawan dapat membeli. Program workshop ini juga mendukung program pemerintah, target tahun 2025 bisa mengurangi 70 persen sampah ke laut.

Ruhani Nitiyudo, Co-Founder of The Antheia Project mengatakan kami ingin mengajak ibu-ibu di Pulau Harapan untuk tidak hanya memilah sampah dengan benar namun mengolahnya menjadi barangnya yang bisa digunakan lagi. Kami ingin mengajak Ibu-ibu Pulau Harapan untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik lagi. Dari program ini diharapkan hasil kerajinan dari sampah styrofoam dan plastik dapat dijual kembali kepada pengunjung Pulau Harapan sehingga sampah tersebut tidak lagi merusak ekosistem laut, merusak alam, atau dibakar agar standar hidup selaras dengan alam yang dulu bersih dari sampah dapat tetap dinikmati dan menjadi warisan bagi kesejahteraan bersama. Inisiatif ini juga sejalan dengan program ekonomi sirkular yang digagas oleh pemerintah untuk mengurangi styrofoam dan plastik dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Baca Juga :  Tertangkap Tangan Buang Limbah Sembarang, 2 Usaha Sablon di Panggil DLHK Denpasar

“Berbagai program kami lakukan untuk mengurangi jumlah sampah. Sebelumnya kami juga melakukan Beach Clean Up 1 sampai 3 di Pulau Harapan. Antusias masyarakat Pulau Harapan dalam mengurangi sampah sangat besar. The Antheia Project melalui workshop bersama Ibu-ibu Pulau Harapan yakin ketika seorang perempuan berdaya, mereka juga bisa memberdayakan anak-anak mereka. Perempuan berdaya akan mengutamakan beberapa aspek kehidupan, seperti kesehatan, pendidikan, dan sanitasi yang menjadi poin utama dari kehidupan dan inisiatif ini menjalin kembali hubungan manusia dan alam. Semoga hal kecil yang kami lakukan untuk Ibu-ibu Pulau Harapan dapat berdampak besar di masa depan,” ujar Ruhani.

Ignatius Mario, Project Manager The Antheia Project mengatakan “Pulau Harapan sebagai lokasi yang strategis dalam memberikan edukasi pengelolaan sampah. Materi Workshop Pengelolaan Limbah yang kami berikan adalah tentang pentingnya pengelolaan sampah dan cara mengelola sampah menjadi barang yang lebih bermanfaat, seperti pouch, rok, dan tas. Kami berdiskusi dengan Ibu-Ibu dari Pulau Harapan mengenai kondisi sampah dan antusiasme mereka untuk membuat suatu produk menggunakan sampah atau barang bekas yang memiliki nilai ekonomi. Kami juga menunjukkan proses pembuatan dan sampel produk-produk yang dihasilkan melalui upcycling. The Antheia Project juga berharap dapat berkolaborasi dengan organisasi lain dan pemerintah untuk pemasaran produk yang sudah dibuat oleh Ibu-ibu Pulau Harapan. Kedepan The Antheia Project juga akan terus melakukan edukasi pengelolaan sampah dengan masyarakat Pulau Harapan,” ujar Mario.

Baca Juga :  Peranan Perempuan dalam Perjuangan Rakyat Bali, Menghapuskan Stigmanya Sebagai Kaum yang Tertindas

Firmansyah Kusumajaya, Staff Penyuluh Kehutanan Taman Nasional Kepulauan Seribu mengatakan, Taman Nasional Kepulauan Seribu khususnya SPTN Wilayah II Pulau Harapan, sangat mendukung kegiatan workshop ini, karena kita tahu bahwa sampah sudah menjadi isu lingkungan yang sangat mengkhawatirkan.

“Adanya kegiatan ini harapannya dapat mengurangi sampah di Pulau Harapan khususnya sampah di laut kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Sehingga laut kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu menjadi lestari dan ekosistem terjaga dengan baik,” ucap Firmansyah.

Septiansyah Safutra, Mahasiswa Universitas Paramadina mengatakan, dari Universitas Paramadina, mengucapkan terima kasih atas dukungan dari tim The Antheia Project karena telah mendukung dan juga membantu pihaknya dalam kegiatan workshop pengolahan limbah khususnya limbah di Pulau Harapan.

“Kami juga berterima kasih kepada Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu yang sudah mewadahi dan juga mendukung kegiatan workshop pengolahan limbah di Pulau Harapan. Kegiatan berjalan dengan baik, sehingga kami bersama-sama dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat bank sampah di Pulau Harapan. Semoga kegiatan dan aksi peduli lingkungan akan terus dilakukan The Antheia Project kedepannya. Salam Aksi! Salam Konservasi!,” tutup Septiansyah. (bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini