fisip unud
Prof. Suka Arjawa Menjadi Guru Besar Pertama FISIP Udayana. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, JIMBARAN – Universitas Udayana melaksanakan pengukuhan Guru Besar yang berlangsung di Gedung Widya Sabha, Kampus Jimbaran. Di antara 8 Guru Besar yang dikukuhkan, salah satunya adalah Prof. Dr. Drs. I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa, M.Si., yang sekaligus menjadi Guru besar pertama di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Universitas Udayana, Sabtu (10/12/2022)

Sejak turut mendirikan Fisip dan mengajar pada program studi Sosiologi, Prof. Suka Arjawa dikukuhkan sebagai Guru Besar Sosiologi Agama dengan mengangkat ‘Ngaben Krematorium’ sebagai disertasi, Prof. Suka Arjawa mulai menggeluti kajian sosiologi, khususnya sosiologi keagamaan.

Baca Juga :  LPPM Unud Gandeng Duta Digital Desa Cerdas Kemendes PDTT Laksanakan Pengabdian di Desa Sidan Gianyar

Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Suka Arjawa mencoba mengaitkan sosiologi agama, yaitu peran hermeneutika sebagai sebuah teori dan metode yang dapat digunakan dalam mengupas simbol berbagai ritual upacara dan sarana upacara di Bali. Sehingga, dengan demikian upaya menafsirkan simbol-simbol ritual upacara di Bali dapat menyederhanakan berbagai ritual agama hindu Bali.

“Hal tersebutkan diperuntukan sebagai edukasi mengenai makna kegiatan dan simbol ritual agama yang selama ini dilakukan masyarakat Bali,” paparnya.

Dikutip dari Udayana TV, Prof. Suka Arjawa menyebutkan dalam sejumlah literatur upaya penyederhanaan ritual agama Hindu di Bali masih belum maksimal. Sehingga, upaya penyederhanaan tersebut menjadi fokus dalam disertasinya. Urgensi dari keberhasilan dalam menyederhanakan ritual agama Hindu di Bali tanpa menghilangkan esensinya sama sekali, dapat membantu menghemat tenaga, waktu, dan biaya masyarakat.

Dengan pengukuhan sebagai Guru Besar, Prof. Suka Arjawa berkomitmen untuk menekui keilmuan di bidang sosiologi agama secara terus-menerus, dan mencoba mencari makna dari ritual tersebut, serta mencoba menjelaskannya kepada masyarakat secara perlahan sehingga masyarakat dapat memahami makna dari ritual yang dilaksanakan. (unud.ac.id/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini