Wangsa
Wangsa Ayu Vidya Loka, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Berkaca dari adanya kejadian seorang wanita yang mengarang cerita bahwa dirinya di culik, dengan tujuan untuk menutupi kesalahannya karena takut dimarahi oleh suaminya, ternyata mendapatkan sorotan dari kacamata seorang psikolog, yang dimana hal tersebut disebutkan sebagai dampak dari pola asuh tidak baik yang didapatkan oleh si anak selama hidupnya.

Menurut keterangan dari Psikolog Remaja di Denpasar, Wangsa Ayu Vidya Loka, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Dirinya menyebutkan seseorang bisa mengambil keputusan yang salah atau keputusan yang tidak baik tidak terlepas dari pola asuh yang diterima seseorang.

“Jika pola asuh yang diterima tidak baik, maka seseorang bisa berpotensi membuat keputusan yang keliru dalam dia menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini sama kaitannya dengan kasus rekayasa yang dilakukan DAT, dimana menurut Vidya tindakan yang dilakukan DAT bisa jadi karena DAT ingin melindungi diri dari kemarahan suaminya. Tindakan melindungi diri ini dikatakan Vidya, bersifat spontan sehingga bisa dilakukan dengan cara apapun. Upaya melindungi diri ini, diakui Vidya sudah menjadi sifat alamiah manusia dan memang menjadi salah satu upaya manusia dalam bertahan hidup.

Baca Juga :  Tujuh Tips Menyusun Resolusi di Tahun Baru

“Untuk bertahan hidup secara teori, manusia memiliki Mekanisme Pertahan diri. Mekanisme ini akan muncul secara spontan jika seseorang merasa terancam,” terangnya.

Bentuk ancaman yang dimaksud Vidya beragam, dimarahi, dihukum atau dibeeikan kekerasan fisik bisa menjadi salah satu bentuk ancaman yang menakutkan. Karena itulah, seseorang bisa melakukan kebohongan.

Namun demikian, dalam melakukan pertahanan diri ini, manusia pada dasarnya dijelaskan Vidya tidak mengenal mana tindakan baik dan mana tindakan yang buruk. Yang diketahui oleh manusia adalah bertahan dari ancaman yang diterima.

“Karena itu, tindakan pertahanan diri yang dilakukan sering kali adalah tindakan yang salah, dan bisa berpotensi menjadi hal negatif yang cenderung merugikan,” paparnya.

Untuk bisa mengetahui yang mana tindakan yang baik dan buruk, dilajutkan Vidya tidak terlepas dari peran tua dalam mengasuh anak dari kecil hingga dewasa. Jika orang tua tidak bis memberikan pengasuhan yang sesuai dengan norma-norma yang ada, maka seorang anak berpotensi mengalami penyimpangan dalam mempraktekkan normal-norma yang baik. Kondisi ini, juga bisa mengarahkan seorang anak menjadi orang yang anti sosial dalam kehidupannya.

Baca Juga :  Terkait Pola Asuh Anak Usia Dini, Penandatangan MoU Bunda PAUD Kota Denpasar dan Himpsi Bali

“Sehingga tindakan atau keputusan yang diambil tidak dilakukan berdasarkan norma-norma yang sesuai dan berpotensi membeeikan kerugian secara mental bagi si anak,” tutupnya. (bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini