Sudikerta
Jaya Negara dan Gungde Agung Kunjungi Sudikerta. Sumber Foto : istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pasca menghirup udara bebas (asimilasi) pada 22 Pebruari 2022 lalu, kediaman I Ketut Sudikerta di Jalan Drupadi, Denpasar tak pernah sepi tamu.

Senin (28/2/2022), giliran Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih (PW-AWBP) Provinsi Bali/Pusat, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Sekretaris Umum Wayan Sudiarta beserta pengurus pusat/provinsi dan kabupaten mengunjungi mantan Wakil Gubernur Bali periode tahun 2013-2018 itu.

Dalam perbincangan hangat tersebut, IGN Jaya Negara yang juga Wali Kota Denpasar menyampaikan kegembiraannya atas kebebasan Ketut Sudikerta yang juga mantan Ketua Umum PW-AWBP Provinsi Bali/Pusat ini.

“Kami menjunjung prinsip Ala Ayu Tunggal Kabeh, jele melah nyama gelah (suka duka tetap bersatu dan sebagai saudara sendiri, red),” ungkapnya.

Ia juga menghargai keputusan Ketut Sudikerta untuk memilih akan menjadi pemangku namun tetap berharap terus menjaga tali pasimakraman (silaturahmi, red) agar semakin erat.

“Selama ini beliau banyak berkontribusi dan berjasa di Paiketan Arya Wang Bang Pinatih. Selanjutnya kami berharap beliau nantinya turut membina keberadaan pasemetonan (persaudaraan, red) kita,” papar Jaya Negara.

Baca Juga :  Bawaslu Hemat Rp1,5 Miliar Lebih Saat Gelaran Pilwali 2020

Tak berselang lama, Panglingsir Puri Ageng Mengwi yang juga anggota DPD RI tampak hadir bersama istri di rumah mantan Wakil Bupati Badung periode Bali (2005-2013) tersebut.

Di sela percakapan santai itu, AA Gde Agung tak bisa menyembunyikan kegembiraannya menyambut kebebasan Sudikerta meski dengan syarat. Maklum, dua sosok ini punya kedekatan emosional yang kuat.

Sudikerta adalah pendamping AA Gde Agung saat menjabat Bupati Badung mulai tahun 2005. Masa jabatan Sudikerta sebagai wakil Bupati Badung semestinya habis tahun 2015 (dua periode), namun tahun 2013, ia mengundurkan diri untuk maju mendampingi Mangku Pastika sebagai Wakil Gubernur Bali. Dan pasangan tersebut menang.

AA Gde Agung mengaku sangat nyaman bekerja dengan Sudikerta. Selain loyal kepada masyarakat, Sudikerta juga tidak pernah memilih-milih pekerjaan dan jago melobi dana proyek infrastruktur di pusat dengan cara legal.

“Saya sangat nyaman dengan Pak Tut (Sudikerta). Delapan tahun saya bersama di Badung. Banyak yang telah kami perbuat untuk rakyat terutama pembangunan infrastruktur. Seperti yang kita tahu, tahun itu infrastruktur di Badung banyak yang tidak layak,” kenangnya.

Baca Juga :  Wawali Jaya Negara Hadiri Pengukuhan Bendesa Adat Sesetan

Sejatinya, menurut Anggota DPD RI ini, Sudikerta masih punya potensi (di dunia politik). Hal ini pun diakui oleh sejumlah politisi di Bali. Namun, Sudikerta mengaku sudah mantap meninggalkan politik dan memilih menekuni spiritual.

“Apa pun keputusan beliau kita hormati bersama. Jadi jangan lagi ada yang mengusik-usik. Yang berlalu biarlah berlalu. Biar beliau introspeksi. Saya sebagai kolega sekaligus orangtua wajib mengayomi,” urainya.

Terlepas dari persoalan hukum yang menjeratnya, AA Agung Gde Agung mengingatkan bahwa bagaimanapun juga, Sudikerta banyak memiliki jasa yang bisa dinikmati masyarakat yang diperjuangkan saat ia ‘ngayah’ sebagai Wakil Bupati Badung maupun Wakil Gubernur Bali. Salah satunya adalah Jalan Tol Bali Mandara.

Diakui AA Gde Agung, upaya mewujudkan Jalan Tol Bali Mandara sangat berliku dan rumit, terutama di bidang pembebasan lahan. “Nah, di sanalah peran beliau. Beliau yang ngatasin semua. Saat saya tanya, hanya tertawa. Tapi saya tahu beliau sudah melakukannya,” kenangnya.

Sementara Sudikerta menegaskan kembali bahwa ia akan pensiun dari kancah perpolitikan yang telah membesarkan namanya. Ia fokus mempersiapkan diri sebagai pendeta (Rsi). Namun ada rangkaian panjang yang harus dilewati.

Baca Juga :  Jelang Sertijab, Dandim I Made Alit Yudana Sampaikan Pesan ini Kepada Masyarakat Badung dan Denpasar

“Sekarang baru tahap awal. Saya selesaikan dulu urusan pribadi. Trus malukat di berbagai tempat. Jadi pemangku, ida bawati trus naik lagi. Habis itu buat pasraman dan griya,” kata Sudikerta.

Niatnya madwijati lahir atas petunjuk guru sekaligus keinginan untuk memperbaiki kualitas dirinya sendiri. Sehingga kesulinggihannya kelak lebih digunakan untuk kepentingan keluarga, meskipun ia tidak menolak kalau ada umat Hindu dari luar membutuhkan pelayanan sulinggih.

Dengan kebesaran hati, Sudikerta meminta maaf kepada seluruh masyarakat Badung dan Bali pada umumnya atas kesalahannya yang disengaja mau pun tidak disengaja ketika ia menjadi pejabat. Demikian pula terhadap kasus yang menjeratnya murni karena urusan pribadi yang ia sendiri tidak menduga bakal berakhir di balik jeruji.

Mantan Ketua DPD Golkar Bali ini pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang masih peduli dengan dirinya meski sudah menjadi masyarakat biasa.

“Selama ini banyak yang memberikan dukungan moril. Terima kasih sekali lagi,” pungkas Sudikerta. (bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini