“Yang penting produksinya ke depan kita bisa bandingkan. Nanti bandingkan dengan produksi rata-rata nasional. Produksi nasional misalnya 10 ton per-hektar, kalau nanti kita bisa mencapai diatas itu, artinya kita berhasil,” jelas Yohanes.
Sementara Sekretaris Program Pascasarjana Universitas Warmadewa, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, SE., M.Si., mengakui terobosan yang dilakukan Bupati Klungkung merupakan langkah yang luar biasa. Sebab hingga saat ini belum ada kepala daerah di Bali yang yang mampu menangani permasalahan sampah, sehingga permasalahan sampah masih berlanjut.
Suyatna mengungkapkan program TOSS merupakan suatu proyek yang terintegrasi dan sangat bermanfaat ke depan, khususnya dalam pelestarian lingkungan. Apalagi masalah lingkungan Bali sudah sangat memprihatikan, baik karena pelanggaran undang-undang ataupun akibat proses pertanian yang tidak menggunakan konsep ramah lingkungan.
“Kami berharap kerja sama ini berlanjut dan menjadi embrio yang nantinya banyak bermanfaat dalam pembangunan sektor pertanian. Didukung pengelolaan sampah terintegrasi dan ramah lingkungan. Yang pada akhirnya membentuk sebuah ekosistem pertanian yang berkelanjutan,” paparnya.(ads/bpn)













