Uang
Kasus yang dialami Neno selaku kasir di GPIB tersebut berakhir penetapan tersangka terhadap dirinya di Ditreskrimum Polda Bali, Kamis (3/6/2021) kemarin. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Polda Bali kembali mengungkap kasus penggelapan dalam jabatan. Kali ini, yang terjadi adalah kasus penggelapan uang milik Gereja, GPIB Maranatha di Denpasar, yang menyeret seorang pelaku atas nama Unun Hardinansi Neno, dimana saat ini yang bersangkutan berada di sel tahanan Mapolda Bali.

Neno yang bekerja sebagai kasir di GPIB tersebut, diduga telah melakulan penggelapan uang milik GPIB Maranatha sebesar Rp289 Juta, berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir yang dilakukan pada, Kamis (3/6/2021).

Dalam keterangannya, Direskrimum Polda Bali, Kombes Pol Djuhandani Rahardjo Puro, membenarkan kasus yang menimpa Neno tersebut dan yang bersangkutan kino sudah ditetapkan sebagai tersangka.

“Iya (tersangka). Selanjutnya silahkan konfirmasi ke Wadir atau Kasubdit,” ujarnya.

Selanjutnya, penyidik yang memeriksa tersangka Neno, Kompol I.G.N Suta Astawa pun juga membenarkan terkait penetapan tersangka, sebab sebelumnya sudah masuk pada pemeriksaan akhir.

“Ya sudah ditahan. Hari ini (Kamis) pemeriksaan kesehatan,” tambahnya.

Baca Juga :  Tuntaskan Program Vaksin Nasional, Kodim Badung Gelar Vaksinasi Bagi Para Lansia di Wilayah Dentim

Untuk dapat diketahui, Unun Hardinansi Neno, sebelum ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penggelapan tersebut. Merupakan seorang mantan kasir di Gereja GPIB Marantha Denpasar, yang diduga telah menggelapkan uang milik Gereja sebesar Rp289.270.285.

Sementara itu, Kuasa Hukum tersangka, Marthen Boiliu, SH., mengatakan, pihaknya akan melakukan dua langkah opsi dalam menghadapi kasus kliennya ini.

“Kami menyiapkan dua opsi langkah hukum klien saya. Yaitu sedang mempertimbangkan langkah hukum praperadilan atau menghadapi dakwaan jaksa di persidangan pengadilan pidana,” katanya.

Penetapan tersangka ini bermula dari adanya laporan pihak gereja, dengan Laporan Polisi nomor; LP/489/XII/2019/Bali/SPK, tertanggal 16 Desember 2019 yang lalu, tentang adanya dugaan tindak pidana Penggelapan dalam jabatan yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang karena ada hubungan kerja atau pencurian atau karena mendapatkan upah terhadap uang milik Gereja GPIB Maranatha, Denpasar, Jl. Surapati No. 11 Denpasar.

Baca Juga :  Sehatkan Warga, Pemkot Denpasar Terus Gencarkan Safari Kesehatan

Hal itu sebagaimana dimaksud Pasal 374 KUHP Jo Pasal 372 KUHP yang diduga telah dilakukan oleh tersangka. Maka berdasarkan surat dari Ditreskrimum Polda Bali dengan Nomor: S. Tap/84/V/2021/Ditreskrimum, tanggal 21 Mei 2021, Neno akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Sesampainya kasus ini di ranah hukum, bermula saat Neno menjabat sebagai Kasir di Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) Jemaat Maranatha Denpasar, terhitung sejak tanggal 16 Oktober 2015. Lalu, Majelis Jemaat melakukan Sidang Evaluasi Program Triwulan ke IV (Januari 2019-Maret 2019) yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2019. Dengan demikian, maka bagian keuangan, yaitu Bendahara, Bendahara I, Ketua IV serta Badan Pemeriksa Perbendaharaan Jemaat (BPPJ) diminta melakukan Cash Opname.

Baca Juga :  Beroperasi di Perempatan Jalan, Camat Nyoman Lodera Tertibkan Gepeng, Pedagang Asongan dan Pengamen

Dari sana terdapat selisih kas dan setara kas yang tidak dapat dipertanggung jawabkan oleh Unun Hadinansi Neno adalah sebesar Rp289.070.875,-. Neno lalu disuruh membuat surat pernyataan untuk menggantikan uang tersebut paling lambat tanggal 15 September 2019.

Namun sampai tanggal yang ditetapkan tersebut Unun Hardinansi Neno belum dapat mengembalikan dana tersebut di kas Gereja. Atas dasar itu, pihak gereja lalu melapor ke Polda Bali dan kini Neno ditetapkan sebagai tersangka. (aar/bpn)

1 KOMENTAR

  1. Audit Forensik ini sangat penting dilakukan oleh seorang auditor yang kompoten karena dalam hal ini tugas dari audiotr forensik yaitu memberikan pendapat hukum dalam pengadilan dan ada juga peran auditor forensik dalam bidang hukum diluar pengadilan, misalnya dalam hal membantu merumuskan alternatif penyelesaian perkara dalam sengketa, perumusan perhitungan ganti rugi dan upaya menghitung dampak pemutusan atau pelanggaran kontrak. Adapun tujuan dari audit forensik yaitu untuk mendeteksi atau mencegah berbagai jenis kecurangan (fraud).

    Di dalam melakukan audit forensik seorang auditor forensik mencoba menguak adanya suatu tindak pidana korupsi. Auditor perlu alat yang lebih handal dalam membongkar indikasi adanya korupsi atau tindak penyelewengan lainnya di dalam pemerintahan atau BUMN dan BUMD dan hal yang diperlukan apabila terjadi kasus seperti ini yaitu dengan melakukan audit forensik.

    Karena sifat dasar dari audit forensik yang berfungsi untuk memberikan bukti di pengadilan, makan fungsi utamanya yaitu untuk melakukan audit investigasi terhadap tindakan kriminal dan untuk memberikan keterangan saksi ahli di pengadilan.

    Akuntan Nelson Group sebagai sahabat pusat akuntansi keuangan-auditing independen-konsultasi pajak akan senantiasa membantu pemerintah daerah / koperasi LPD / manajemen perusahaan dalam audit spesialis crime case (pidana perdata tipikor). Berpengalaman dalam menghandle audit crime case dan menjadi praktisi sejak tahun 2006.

    Konsultasi dan appointment silakan hubungi / segera kunjungi :
    Akuntan Nelson Group
    0818-0828-9010
    LOBI Quest hotel
    Jalan mahendradata denpasar
    Senin-Jumat jam 09-18
    Bapak Nelson SE.,CA

    SEARCHING GOOGLE “KANTOR AKUNTAN NELSON”

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini