Komang banyak bergelut dengan ahli-ahli kopi dan belajar tentang kopi hingga ke Jember. Pada 2012 ia banyak berkolaborasi dengan Bank Indonesia. Ia pernah mengikuti Lomba Wirausaha Muda Pemula berbasis teknologi (technopreneur) yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli bekerjasama dengan Kemenpora, BPPT dan Bank Indonesia (BI) Bali yang mengantarkannya menjadi pengusaha muda kopi Kintamani yang sukses.
Ide bisnisnya untuk pengembangan kopi Kintamani keluar sebagai finalis terbaik. Setahun berikutnya, ia kembali terpilih sebagsi finalis empat besar wirausaha Bank Indonesia Bali.
“Saya mendapatkan pelatihan, coaching untuk menjadi enterpreneur yang andal, mandiri dan berdaya saing dari Bank Indonesia,” kata Sukarsana saat berbicara dalam acara ALC Talk di Agro Learning Center, Peguyangan, Denpasar, Sabtu (19/6/2021).
Dari pengalaman belajar, petani diperkenalkan dengan pasar ekspor kemudian dibina untuk berproduksi tinggi dan mengolah kopi sesuai dengan standar pasar. Di Kintamani terdapat 15 ribu hektare dan sudah ditanami kopi sekitar 7 ribu hingga 8 ribu hektare. Dengan karakter pertanian tumpang sari antara kopi dan jeruk.
“Pergerakan kopi Kintamani begitu masif, di mana mana dibicarakan hingga ke luar negeri dan menjadi salah satu kopi termahal di dunia,” jelasnya.
Pengalaman di dunia kopi, juga melahirkan bisnis Bali Arabica Coffee Kintamani miliknya. Bisnis ini ia bangun dengan visi ‘Menduniakan kopi lokal Bali dengan konsep Tri Hita Karana’.













