UGM
Cerita Maimunah Anak Buruh Tani dari Langkat Masuk UGM Tanpa Tes. Sumber Foto : Istimewa

Perawakan Mai memang tergolong kecil, namun ia merupakan anak yang ulet dan pekerja keras. Sudah setahun berjalan ia mengambil kerja sembari sekolah secara daring. Bukan hal yang mudah membagi waktu sekolah, bekerja, dan menyiapkan diri menghadapi ujian kelulusan sekolah dan masuk perguruan tinggi.

“Sampai sekarang masih kerja di Binjai, dari Senin sampai Sabtu jadi drafter di workshop/perusahaan alat-alat listrik,” jelasnya sembari berharap selepas lulus kuliah bisa mendirikan workshop sendiri di tanah kelahirannya.

Kegembiraan pastinya dirasakan oleh keluarga Mai. Kedua orang tuanya bahagia karena impian puterinya semakin dekat dengan kenyataaan. Meski bukan dari keluarga berada mereka ingin anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Tidak seperti bapaknya yang hanya bisa sekolah sampai tingkat SD dan mamak sampai SMP.

“Bapak mamak senang sekali tau Mai diterima di UGM. Bahkan mamak sudah mencicil belikan barang-barang seperti koper untuk persiapan kuliah di Jogja jauh-jauh hari sebelum pengumuman. Saya sempat gak enak, gimana kalau besok tidak diterima,” kenangnya.

Baca Juga :  OJK dan MUI Sepakat Tingkatkan Kerja Sama, Dorong Penguatan Sektor Keuangan Syariah

Ponisih mengatakan awalnya ia dan suami tidak setuju dengan keinginan putrinya untuk kuliah di luar kota bahkan di luar Pulau. Mereka ingin Mai kuliah tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Anak memang sejak SMP pengen bisa kuliah. Lalu saya bilang jangan jauh-jauh Mamak gak ada duit, tapi Mai bilang bisa nanti ada beasiswa,” katanya.

Saat ini ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk puterinya. Ia berharap nantinya Mai bisa kuliah dengan lancar dan lulus tepat waktu serta bisa meraih apa yang menjadi cita-citanya.(bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News