Zona Oranye
Buleleng Kini Masuk Zona Oranye Covid-19. Sumber Foto : Istimewa

Fasilitas pariwisata digunakan sebagai tempat isolasi terpusat untuk pasien berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG). Seperti vila di desa dan juga salah satu hotel di wilayah Seririt untuk isolasi terpusat bagi pasien dari kelurahan. Sampai saat ini, di hotel yang disediakan pemerintah tersebut sudah diisi oleh 19 pasien. Sehingga, isolasi mandiri sangat dihindari kecuali yang memang tidak bisa melakukan isolasi terpusat.

“Salah satu contoh ada pasien Covid-19 bayi berumur sembilan bulan yang ada di salah satu desa yang harus ditunggu oleh orang tuanya,” ujar Suyasa.

Baca Juga :  Ditemukan Tergeletak Tidak Bernyawa, Arsa Diduga Jadi Korban Pengeroyokan 

Suyasa pun mengungkapkan upaya untuk menurunkan angka kematian juga dilakukan. Dengan adanya isolasi mandiri di hotel dan vila di desa, RS diingatkan untuk tidak menerima pasien dengan status OTG. Kecuali pasien tersebut mendapat rekomendasi dari Satgas untuk melakukan isolasi di RS.

Jika OTG diterima di RS, konsekuensinya adalah tingkat keterisian tempat tidur akan tinggi. Lalu, akan mengganggu fokus tenaga kesehatan (nakes) karena merawat pasien OTG yang semestinya tidak perlu dirawat secara medik sehingga yang mempunyai gejala sedang dan berat tidak tertangani sepenuhnya.

Baca Juga :  Sekda Suyasa Sebut Seleksi CPNS dan PPPK Buleleng Diproses Langsung oleh BKN dan Kemendikbud Ristek

“Sehingga sekarang dimana beban nakes fokus kepada yang bergejala sedang dan berat. Secara maksimal bisa dilakukan perawatan. Semoga dengan begitu jumlah kematian tidak tinggi,” ungkapnya.

Penanganan pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid termasuk dalam evaluasi. Sampai saat ini, di semua RS, penanganan Covid-19 dan komorbid pada pasien berjalan seimbang. Semua berjalan dengan baik. Bahkan, ada ICCU dengan udara bertekanan negatif.

Jadi, pasien Covid-19 yang memerlukan cuci darah tetap berjalan namun petugasnya memakai Alat Pelindung Diri (APD) level tiga. Kemudian untuk komorbid lain juga berjalan didampingi oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) yang bersangkutan.

“Sehingga tidak ada pasien yang tidak diberikan pelayanan komorbidnya hanya karena Covid-19. Keduanya tetap berjalan seimbang,” tukas Suyasa.(adv/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini