Unwar
Direktur Warmadewa Research Centre (WARC) I Nyoman Gede Mahaputra, ST., M.Sc., Ph.D. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Universitas Warmadewa (Unwar) memasang target menjadi kampus rujukan penelitian ekowisata di dunia. Target ini menjadi salah satu upaya mewujudkan visi Unwar yaitu Menjadi Universitas bermutu yang berwawasan ekowisata dan berdaya saing global tahun 2034.

“Kami ingin memberi sumbangan signifikan di bidang ekowisata. Menjadikan Universitas Warmadewa sebagai rujukan penelitian ekowisata,” kata Direktur Warmadewa Research Centre (WARC) I Nyoman Gede Mahaputra, ST., M.Sc., Ph.D dalam sosialisasi hibah penelitian Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali tahun 2021 di Denpasar, Senin (8/3/2021).

Baca Juga :  Ribuan Penonton Padati Nobar Semifinal Piala Asia U-23 di Dharma Negara Alaya Denpasar, Tim Garuda Muda Gagal Melaju ke Final Piala Asia U-23

Menurut Mahaputra, guna mewujudkan target tersebut maka penelitian-penelitian di Unwar ke depan akan berbasis ekologi atau mengedepankan aspek lingkungan. Penelitian mesti berbasis keberlanjutan yang dapat dilihat dari masing-masing empat dimensi yaitu lingkungan, sosial, ekonomi dan budaya. Penelitian juga berbasis keberagaman yaitu keberagaman dalam melibatkan keterlibatan masyarakat, budaya dan pengetahuan masyarakat lokal, dan aspek non-human.

Tema penelitian nantinya akan mengarah pada perkembangan ilmu pengetahuan serta pemetaan penelitian dan praktek ekotourism di Bali dan Indonesia. Menggali nilai-nilai pengetahuan dan kearifan lokal, proses, dan institusi yang berpengaruh terhadap praktek-praktek ekowisata.

Baca Juga :  Wali Kota Jaya Negara Hadiri Karya Melaspas di Pura Puseh Dadia Desa Adat Penatih

Mahaputra menegaskan tema penelitian juga akan diarahkan pada Analisa kritis penunjang ekowisata dalam aspek kesehatan, infrastruktur, sosial-politik, kebijakan, hukum, ekonomi, bahasa dan sastra, pertanian dan peternakan, kemaritiman, serta pembangunan dan ruang yang memiliki kesadaran terhadap lingkungan. Analisa kritis terhadap wilayah yang dilindungi tapi telah diprivatisasi atau dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi.

“Termasuk nanti hingga analisa kritis berbasis ekologi (nature-based) dan berbasis komunitas (community based) pada dampak dari ekowisata pada bidang kesehatan, infrastruktur, sosial-politik, kebijakan, hukum, ekonomi, bahasa dan sastra, pertanian dan peternakan, kemaritiman, serta pembangunan dan ruang,” tegas Mahaputra.(bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News