Dalang Remaja
Gusde Mahendra Lestarikan Warisan Leluhur di Tengah Pandemi dan Gejolak Kemajuan Zaman

Pemuda ini menuturkan, bahwa dirinya mengaku bukanlah seniman atau istilah lainnya tetapi hanya seorang anak muda pengayah yang melakoni warisan leluhur yang harus dilestarikan dan bukan sekedar pamer tetapi untuk menyamabraya dan ngayah,” imbuhnya.

Pemuda asal Banjar Griya, Desa Ayunan ini juga menuai sebuah kebanggaan tersendiri pada saat mewakili almamaternya SMA Negeri 8 Denpasar dalam pentas Wayang Kulit Bali di Consulate General of India dalam memperingati Hari Raya Suci Saraswati menampilkan kesenian budaya daerah Bali diantara siswa sekolah internasional lainnya.

Baca Juga :  Gala Premiere "Ki Ai Nirnur" Angkat Refleksi Budaya Bali di Tengah Era Teknologi dan AI

Di sisi lain, pertunjukan boneka kulit wayang sebagai seni adi luhung Indonesia yang sudah diakui organisas dunia yaitu PBB Bidang Kebudayaan, UNESCO yang merupakan warisan seni budaya.

Perjalanan Gusde Mahendra sebagai Dalang Remaja selain mendapat ilmu dari berbagai sumber seperti Dinas Kebudayaan, juga didapatkan dari seorang Ajik (orang tua) dan tempaan lingkungannya di Griya yang dikenal masyarakat disana sebagai kantong sastra dan seni dari sejarah Griyanya terdahulu.

Gusde Mahendra tidak hanya mahir dalam menjadi Dalang, sebelumnya sejak dia duduk di bangku SD, ia sudah berlanglang buana dan  menuai banyak prestasi di beberapa pelosok Indonesia bersama maestro Ida Wayan Granoka Gong melalui sanggar Maha Bajra Sandhi dengan kemampuan individu Gangsa, Gender Wayang, Gender Rambat.

Gusde yang masih duduk di bangku SD sudah menginjakkan kakinya di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB memperkenalkan seni budaya Bali tanah kelahirannya di Nusantara.(r/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News