Filsafat
Ambrosius M. Loho, M.Fil., Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado - Pegiat Filsafat. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COMPertanyaan pokok yang ingin dijawab dalam tulisan ini adalah apakah berfilsafat adalah sebuah petualangan intelektual? Jawaban atas pertanyaan, bisa dijawab dari berbagai aspek, karena bukan hanya filsuf yang bisa menjawab tapi semua orang bisa memiliki jawabannya sendiri, juga karena semua orang bisa dianggap bisa berfilsafat.

Di sisi yang sama, arti filsafat bagi setiap orang yang diyakini bisa berfilsafat, tentu tidak semudah orang yang memiliki latar belakang belajar filsafat, bisa menjawab dengan mudah dan terukur apa itu filsafat. Namun demikian uraian dalam tulisan sederhana ini diyakini bisa menjadi jawaban sederhana tentang apa itu filsafat.

Merujuk dari ‘Pengantar Berfilsafat’ karya Prof. Yong, demikian penulis menyebut guru filsafat di STFS Pineleng-Manado, filsafat adalah aktivitas berpikir. Sementara Prof. Magnis Suseno, dalam karyanya: ‘Filsafat sebagai Ilmu Kritis’, menyebutkan bahwa filsafat adalah ilmu kritis. Ilmu yang digunakan untuk mengkritisi berbagai realitas yang ada, demi mencari sebuah jawaban yang kritis pula.

Di sisi lain, B. Herry Priyono, dalam sebuah pertemuan ketika penulis belajar filsafat di Kampus STFD Jakarta, mengatakan ‘ex philosophia claritas’, melalui (dari) filsafat mencapai kejernihan. Benar saja, pendapat beliau adalah pendapat yang mengandung banyak arti dan makna, karena sebagai aktivitas berpikir dan sebagai ilmu kritis, filsafat bisa mengantar kita pada sebuah kejernihan. Kejernihan berpikir, kejernihan menganalisis, dan kejernihan melihat realitas yang disinterestedness, tanpa kepentingan.

Di sisi yang berbeda, ada pula orang yang beranggapan bahwa ilmu filsafat tidaklah menarik. Ilmu filsafat selalu membingungkan, dan ilmu filsafat sangat sulit untuk dimengerti. Menjawab hal ini, Prof. Yong Ohoitimur, dalam sebuah Webinar Online pernah menyatakan bahwa berfilsafat itu seperti sebuah pesawat terbang. Ketika beranjak atau berangkat dari bandara, filsafat akan menuju ketinggian yang tentu diawali dari sebuah refleksi (persiapan untuk terbang), terbang ke langit, lalu pada akhirnya harus didaratkan pada tujuan akhir yakni kejernihan. Demikian juga, filsafat ibarat sesuatu yang ada di menara gading yang harus didaratkan pada tujuan tertentu, demikian kata salah satu guruku, F. Budi hardiman.

Itulah filsafat yang memang secara riil memberi kita pencerahan, memberi kita kesempatan untuk banyak berpikir, dan memberi kita waktu untuk terus berpikir dan merefleksikan realitas, termasuk kondisi riil yang ada di sekitar kita. Apapun itu, hal itulah yang menjadi latar penulis sehingga meminati filsafat, terus membaca teks-teks filsafat dan terus berfilsafat sambil terus menulis tentang berbagai realitas, dengan latar filsafat.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here