PLN UID Bali
Senior Manager Perencanaan PLN Bali Putu Putrawan. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASARPT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Bali mencatat adanya penurunan Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik dengan selisih Penjualan Listrik dan BPP sebesar Rp72/kWh. Turunnya BPP menjelang akhir tahun 2020 ini dipengaruhi oleh harga transfer price, kurs dollar, inflasi dan harga minyak mentah (energy primer).

Putu Putrawan, Senior Manager Perencanaan menjelaskan penurunan BPP di Bali merupakan hasil upaya efisiensi yang dilakukan PLN antara lain dengan meningkatkan penjualan, menurunkan biaya operasional, dan masuknya energy primer yang lebih murah sesuai dengan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

“Setelah menghitung realisasi BPP pada bulan Oktober 2020 sebesar Rp1.186/kWh dan penjualan sebesar Rp1.258/kWh maka terdapat penurunan BPP yang signifikan hingga 6,01%, dan ini berarti PLN Bali semakin efisien,” jelasnya. Putu menegaskan penurunan BPP sangat penting, tujuannya agar listrik semakin terjangkau bagi masyarakat.

Baca Juga :  Menunggu Kelanjutan Kasus AWK, THNB Percaya Kapolda Bali Tegas Tindak Pelaku Kejahatan

Sebagai pedoman bagi PLN dan pelaku usaha di bidang kelistrikan, Pemerintah melalui Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan BPP Pembangkit melalui Kepmen ESDM nomor 55K/20/MEM/2019 tentang Besaran Biaya Pokok Penyediaan Pembangkitan PLN yakni untuk Wilayah Bali sebesar Rp 985/kWh. Penetapan BPP Pembangkit ini digunakan sebagai acuan dalam pembelian tenaga listrik oleh PLN apabila terdapat Pembangkit / Independet Power Producer (IPP) Baru.

Putu juga menambahkan pengembangan Energi Baru Terbarukan juga dapat menjadi salah satu upaya PLN untuk menurunkan BPP. “Dengan masuknya tambahan Energi Primer yaitu PLTS Bali Timur dengan harga sekitar 5,8 Cent USD/kWh dan Bali Barat 6,2 Cent USD/kWh tahun 2022, BPP bisa turun lagi,” pungkasnya.

Baca Juga :  Tren Kasus Penyalahgunaan Narkoba di Bali Terus Menurun

Harapannya Jawa Bali Connection (JBC) bisa terealisasi di tahun 2025 dengan kapasitas 2.000 MW, dan Bali akan memiliki cadangan reserved sharing yang berkecukupan sehingga harga Rupiah/kWh akan makin murah dari pembangkit – pembangkit yang ada di Bali.

Saat ini Bali memiliki Kapasitas Daya Mampu sebesar 1.305,80 MW, dan Beban Puncar per September 2020 sebesar 674,3 MW. Ini berarti terdapat penurunan konsumsi listrik hingga 24% dibandingkan dengan bulan Oktober 2019. Terdapat cadangan daya atau reserve margin di Bulan September 2020 sebesar 92% atau 617,8 MW yang menandakan keamanan pasokan daya listrik. Peluang bagi masyarakat yang ingin tambah daya atau pasang baru sangat terbuka.

Baca Juga :  Penerapan Hari Pertama PPKM di Bali, Pangdam IX/Udayana Bagikan 1.500 Masker ke Masyarakat  

Khususnya bagi Industri Kecil Menengah (IKM) atau Usaha Kecil Menengah yang memiliki minat melakukan Tambah Daya dapat memanfaatkan Promo Super Merdeka diskon hingga 75% yang diperpanjang hingga 31 Desember 2020.

Tarif Bisnis dan Industri tegangan rendah mulai dari daya 450 VA sampai dengan daya 13.200 VA dengan pilihan daya akhir sampai dengan daya 16.500 VA. Masyarakat yang ingin menikmati promo ini dapat langsung menghubungi PLN melalui contact center PLN 123, website pln.co.id, atau aplikasi PLN Mobile.(r/bpn)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here