BI
Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pandemi Covid-19 mengakibatkan kinerja perekonomian sejumlah negara menurun. Namun belakangan perekonomian global sudah mulai membaik yang didorong oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Sedangkan kinerja perekonomian Eropa, Jepang, dan India belum kuat.

“Perkembangan positif di Tiongkok dan AS sejalan dengan melandainya penyebaran Covid-19 yang mendorong meningkatnya mobilitas masyarakat serta dampak stimulus moneter dan fiskal yang cukup besar,” ujar Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, pada acara Simakrama Kepariwisataan Sinergi Untuk Kebangkitan Bali Memperkuat Peran Kabupaten/Kota dalam Menghadapi Tantangan Bali Era Baru yang berlangsung di Karangasem, Selasa (13/10/2020).

Sementara di Tanah Air, kondisi pada Agustus-September 2020 dimana kasus Covid-19 masih tinggi dan mobilitas melandai. Ekonomi beberapa daerah di luar Jawa yang memiliki ekspor komoditas tercatat naik. “Pemulihan setelah kontraksi pada Tw II-2020 didorong kenaikan ekspor beberapa daerah di luar Jawa serta ditopang permintaan global, terutama dari tiongkok,” imbuhnya.

Lalu di Bali, kata Trisno, tren kasus Covid-19 di Bali kembali meningkat seiring pelonggaran aktivitas masyarakat. Meskipun demikian, tingkat kesembuhan Covid-19 masih cukup baik dan cenderung meningkat. Tingkat fatalitas juga turut menunjukkan peningkatan di periode yang sama. Risiko kenaikan kasus di Bali juga masih berada pada zona orange atau risiko sedang.

Baca Juga :  Tim Gabungan Pemkot Gencarkan Sosialisasi Prokes Sasar Desa/Kelurahan dengan Kasus Tinggi

Pertumbuhan ekonomi Bali pada Tw II-2020 terkontraksi. Terhentinya aktivitas pariwisata selama Tw II-2020 serta adanya pembatasan kegiatan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Bali pada Tw II-2020 mengalami kontraksi yang lebih dalam, yakni -10,98 persen (yoy).

“Faktor penyebabnya karena menurunnya daya beli rumah tangga seiring menurunnya kinerja pariwisata dan pembatasan aktivitas serta menurunnya jumlah kunjungan wisman dan permintaan komoditas ekspor sebagai dampak Covid-19,” katanya.

Dari sisi lapangan usaha, melambatnya pertumbuhan ekonomi Bali bersumber dari terkontraksinya sektor-sektor pendukung pariwisata seperti akomodasi dan makan minum, transportasi, industri dan perdagangan.

Khusus Kabupaten Karangasem, Indeks Pembangunan Manusia dan PDRB Perkapita di Bumi Lahar ini terus meningkat. Di sisi lain, gini ratio tercatat meningkat yang menunjukkan semakin timpangnya tingkat kesejahteraan penduduk.

“Kalau soal ekonomi, Karangasem tumbuh 5,50 persen pada 2019, meningkat dibanding tahun sebelumnya, namun lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi Bali. Pangsa ekonomi Kabupaten Karangasem terhadap Bali sebesar 6,77 persen pada 2019. Lapangan usaha utama yaitu pertanian (24,61 persen), transportasi (17,71 persen), serta akmamin (11,76 persen),” jelasnya.

Baca Juga :  Kelurahan Sumerta Gencarkan Inovasi Suling

Ditambahkan, pada Tw III (Agt) 2020, kinerja stabilitas sistem keuangan Kabupaten Karangasem menunjukkan penurunan, tercermin dari kontraksi DPK dan kredit. Namun demikian, risiko kredit yang tercermin dari NPL masih cukup terjaga di bawah batas aman 5 persen.

Pagu Pendapatan Daerah (APBD) Kabupaten Karangasem pada tahun 2020 tercatat Rp1,35 triliun. Komponen pendapatan daerah didominasi oleh dana perimbangan dengan share sebesar 68 persen. Persentase realisasi pendapatan (APBD) pada tahun 2020 (Agt) tercatat sebesar 76,55 persen, meningkat dibanding tahun 2019 (Agt) yang sebesar 63,47 persen.

“Berdasarkan hasil riset Growth Strategy (2017) dan KPJU (2017), beberapa industri yang potensial menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Karangasem yaitu industri pemintalan, penenunan dan penyelesaian akhir tekstil serta pariwisata,” pungkas Trisno. (dar/bpn)

Silahkan Berkomentar

Please enter your comment!
Please enter your name here