Lembaga Konservasi
Ketua Umum PKBSI, Dr. H. Rahmat Shah. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Pandemi Covid-19 menimbulkan dampak terhadap seluruh sektor, tak terkecuali lembaga konservasi. Akibatnya, kondisi lembaga konservasi di Indonesia, khususnya di Bali sangat memprihatinkan. Operasional lembaga konservasi menjadi terganggu karena sempat tutup sejak pertengahan Maret 2020 lalu.

Jumlah kunjungan harian yang minim tidak mampu memenuhi biaya pakan dan obat-obatan satwa, pegawai dan biaya operasional lainnya.

“Jika tidak segera dicarikan solusi mengakibatkan semua lembaga konservasi akan semakin memprihatinkan,” ujar Ketua Umum PKBSI, Dr. H. Rahmat Shah di Bali Bird Park, Gianyar, Sabtu (17/10/2020).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pengelola lembaga konservasi untuk mengatasi kondisi sulit ini, antara lain substitusi pakan (penyesuaian/penghematan), pengurangan karyawan, pengaturan jam kerja karyawan, penyediaan suplai pakan mandiri, dan penggalangan dana. Tujuannya agar satwa tetap sehat, kesejahteraannya terjamin, serta perawatan dan pemeliharaannya bisa berjalan normal.

Saat ini bantuan dan dukungan dari semua pihak sangat dinantikan untuk keberlangsungan satwa-satwa sebagai aset negara.

“Lembaga konservasi butuh bantuan atau stimulus karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan. PKBSI sebagai organisasi yang membawahi tentu saja tidak bisa sendirian. Kami mengharapkan peran serta aktif dari pemerintah pusat maupun daerah di mana lembaga konservasi berada,” ucapnya.

Baca Juga :  KPK RI Serahkan Sertifikat Aset Kepada Pemkot Denpasar

Dikatakannya, lembaga konservasi membutuhkan dukungan dari Kementerian Keuangan melalui Dinas Keuangan untuk relaksasi pajak daerah yang harus disetorkan, Kementerian Lingkungan Hidup melalui Dinas Lingkungan Hidup untuk solusi ketersediaan pakan satwa serta Kementerian Pariwisata melalui Dinas Pariwisata untuk dapat mempromosikan seluruh lembaga konservasi yang ada.

Penggalangan donasi pun telah dilakukan oleh PKBSI sebagai induk organisasi perkebunbinatangan di Indonesia untuk disalurkan kepada kebun binatang anggota yang tersebar dari Aceh sampai Papua berdasarkan skala prioritas.

“Semua penggalangan dana dilakukan secara transparan dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat melalui media sosial,” katanya.

Sejak awal pandemi di Indonesia, PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia) sudah menyalurkan bantuan khususnya untuk kebutuhan pakan satwa kepada seluruh lembaga konservasi di Indonesia. Walaupun ada kebun binatang milik Pemda yang dibiayai APBD, namun sebagian besar masih mengandalkan pemasukan dari tiket pengunjung sehingga sangat mempengaruhi kondisi cadangan keuangannya, apalagi belum tahu pasti kapan pandemi ini akan berakhir.

Situasi ini mengakibatkan semua lembaga konservasi mengalami krisis dana. Banyak pihak yang menanyakan keberadaan dana keuntungan yang sudah didapatkan sebelum masa pandemi.

Baca Juga :  Dirjen Yankomas Ditjen HAM Kunjungi Posyankumhamdes Medahan 

Menurut Rahmat Shah, lembaga konservasi telah menggunakan dana keuntungan untuk membangun fasilitas baru serta menutupi kebutuhan selama masa tutup kurang lebih 5 bulan. Dana operasional yang dikeluarkan oleh seluruh lembaga konservasi sekitar Rp35 miliar per bulan.

“Kita semua berharap pandemi cepat berlalu, dan kita bisa kembali menjalani kehidupan normal sebagaimana mestinya, dan masyarakat dapat berkunjung kembali ke kebun binatang dengan hati senang dan bahagia bersama keluarga. Masyarakat yang ingin memberikan dukungan kepada seluruh lembaga konservasi dapat melalui program Food for Animal,” pungkasnya. (dar/bpn)

Silahkan Berkomentar

Please enter your comment!
Please enter your name here