Lestari
Founder Lestari Group, Alex P. Chandra. Sumber Foto : dar/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Akibat pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal Maret 2020 lalu bahkan hingga saat ini belum juga mereda, Indonesia dikhawatirkan akan bernasib sama dengan sebagian besar negara di dunia, yakni mengalami resesi. Lalu, seberapa besar kekhawatiran tersebut akan menjadi kenyataan?.

Berdasarkan data yang ada, Indonesia sudah mengalami kontraksi PDB pada kuartal II-2020 sebesar -5,32 persen, dan kemungkinan besar kontraksi kembali akan terjadi pada kuartal III ini.

Namun, Founder Lestari Group, Alex P. Chandra menyampaikan bahwa resesi itu hanyalah istilah teknis saja. Sejatinya, Indonesia sudah mengalami resesi.

“Dua triwulan berturut-turut ekonomi kita minus, ini sudah termasuk resesi. Kita ini sudah mengalami krisis, omzet turun banyak,” ujar Alex saat konferensi pers melalui media Zoom di Denpasar, Kamis (8/10/2020).

Baca Juga :  Tingkatkan PDRB dan Serap Pekerja, Bupati Buleleng Dorong Sektor Pertanian

Ditambahkannya, kondisi saat ini bukan lagi soal isu ekonomi atau supply and demand, tetapi menjadi isu kesehatan karena pandemi masih merebak dan belum ditemukan obat atau vaksinnya.

“Saya prediksi, ekonomi Bali akan paling parah karena kita di sini sangat bergantung pada sektor jasa dan pariwisata. Kurvanya menyerupai huruf V, dimana awalnya turun tajam namun berikutnya akan naik dengan tajam pula. Secara Nasional, ekonomi kita akan mulai recovery pada triwulan I-2022,” jelasnya.

Menghadapi kondisi ini, perbankan khususnya BPR Lestari sudah mengambil langkah antisipasi sejak pandemi mulai merebak. Alhasil, kinerja pun cukup solid seperti pada triwulan III-2020. Total aset seluruh BPR di bawah benderanya Rp7,2 triliun per September 2020, tumbuh 5,4 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama di tahun 2019.

Baca Juga :  Tingkatkan PDRB dan Serap Pekerja, Bupati Buleleng Dorong Sektor Pertanian

“Aset tumbuh positif, artinya size bisnis berkembang, sementara laba per September secara total grup tercatat Rp121 miliar. Profit walaupun tidak sebagus tahun lalu, namun tidak terlalu jelek mengingat situasinya tidak kondusif,” sebutnya.

Dalam acara yang juga diikuti CEO BPR Lestari Bali, Pribadi Budiono ini, Alex menambahkan likuiditas BPR Lestari Group dalam kondisi aman. Tercatat cash reserve Rp1,8 triliun dimiliki BPR Lestari Bali, sementara secara konsolidasi BPR Lestari Group Rp2,2 triliun.

Dari sisi risiko kredit, NPL masing-masing BPR berada di kisaran angka 0,85 – 4,3 persen. “Di BPR Lestari Bali, anak usaha kami yg terbesar NPL-nya bisa dikendalikan di angka 2,06 persen, di bawah rata-rata industri perbankan di Bali,” paparnya.

Baca Juga :  Tingkatkan PDRB dan Serap Pekerja, Bupati Buleleng Dorong Sektor Pertanian

Terkait restrukturisasi kredit juga dilakukan serta tetap berinovasi. Beberapa inisiatif digital berhasil dirampungkan BPR Lestari Bali, diantaranya DepositoGo dan aplikasi LestariDiskon untuk membantu UMKM.

“Dalam 6 bulan ini setidaknya ada enam inisiatif digital yang kami rampungkan, juga berhasil menyelesaikan akuisisi sebuah BPR di Jogja,” pungkas Alex. (dar/bpn)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here