Humas Krisna Pusat, Ayu Saraswati di Denpasar. Sumber Foto : dar/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Secara umum, pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata, khususnya di Bali. Keterpurukan tersebut juga berimbas ke berbagai usaha yang bergantung pada sektor pariwisata, salah satunya pasar oleh-oleh khas Bali. Hampir seluruh pasar oleh-oleh menutup usahanya selama masa pandemi, bahkan hingga merumahkan karyawan. Tak terkecuali Krisna Oleh-oleh Bali.

Humas Krisna Pusat, Ayu Saraswati mengatakan sepinya kunjungan wisatawan ke Bali serta adanya imbauan pemerintah untuk diam di rumah dan social/physical distancing, membuat jumlah kunjungan konsumen ke pasar oleh-oleh turun drastis. Tak ayal, pengelola pasar oleh-oleh pun menutup sementara outletnya.

Baca Juga :  Sukses COF, Royal Bali College Siap Terapkan Pembelajaran Melalui Tiga Fundamental Kesuksesan

“Sejak Covid-19 merebak, kami ikut terdampak, dampaknya sangat keras, dan mulai akhir Maret semua outlet kami tutup, baik yang di Bali maupun Jakarta dan Surabaya,” kata Ayu saat ditemui di kantornya, Kamis (9/7/2020).

Menurutnya, masa pandemi ini disatu sisi memberikan imbas negatif karena tidak ada pemasukan sama sekali akibat penutupan operasional toko. Tapi disisi lain justru menjadi momen evaluasi untuk bisa siap menghadapi kondisi luar biasa seperti ini.

Menanggapi diterapkannya tatanan kehidupan baru (new normal) di Bali mulai 9 Juli 2020 yang ditandai dengan dibukanya beberapa objek wisata bagi masyarakat lokal, Ayu mengungkapkan apresiasi dan menyambut positif kebijakan tersebut.

Baca Juga :  Satpol PP Denpasar Beri Hukuman Push Up Kepada 5 Pemuda

“Ini tentu berita yang baik terutama bagi pengelola objek wisata. Nantinya hal itu juga akan berimbas positif bagi pasar oleh-oleh, karena pangsa pasar kami tidak hanya domestik dan mancanegara, namun juga lokal,” jelas Ayu yang juga seorang Penyanyi Pop Bali ini.

Ditambahkannya, sejak 22 Juni lalu sebanyak 5 outlet di Bali dari keseluruhan 32 outlet Krisna Oleh-oleh Bali sudah mulai dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Tamu, sebelum masuk toko wajib cuci tangan dan memakai hand sanitizer yang sudah disediakan, cek suhu tubuh, pakai masker serta jaga jarak saat antri di kasir. Saat ini jumlah pengunjung memang masih berkisar 5-10 persen dari rata-rata kumulatif 5.000 pengunjung perhari sebelum pandemi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bupati Suwirta Pimpin Pembahasan RTRW Kabupaten Klungkung

Ayu mengaku optimis bahwa keberadaan pasar oleh-oleh akan kembali bergeliat di masa mendatang meski waktunya tidak bisa cepat. Hal ini mengingat Bali sangat bergantung dengan sektor pariwisata.

“Wisatawan merasa kurang afdol jika tidak membawa oleh-oleh dari Bali. Mudah-mudahan Desember kondisinya benar-benar sudah new normal, apalagi saya dengar pada Agustus dan September akan dibuka bagi wisatawan domestik dan internasional,” pungkasnya. (dar/bpn)