Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof.Dr.dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR.(istimewa)

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTAMelakukan physical distancing dalam waktu relatif lama dan situasi yang penuh dengan ketidakpastian tidak dipungkiri menimbulkan kecemasan dan rasa stres. Sementara perasaan stres berkepanjangan tidak hanya berpengaruh pada kesehatan mental, tetapi juga kesehatan fisik manusia. Stres bisa memicu munculnya berbagai penyakit, termasuk kekambuhan pada pasien lupus.

Baca Juga :  Stimulus Covid-19 Bulan Agustus Sudah Bisa Dinikmati, Begini Cara Mendapatkannya

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof.Dr.dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR,menyebutkan bahwa stres menjadi salah satu faktor pemicu kekambuhan penyakit lupus.

“Stres, kecapekan, dan berjemur matahari bisa membuat penyakit ini kambuh,”terangnya saat dihubungi Sabtu (9/5/2020).

Oleh sebab itu dia mengimbau orang dengan lupus (odapus) sebisa mungkin menghindari agar tidak kelelahan, tidak stres, dan tidak melakukan aktivitas berjemur matahari. Dengan begitu diharapkan penyakit ini tidak mudah kambuh.

Lupus merupakan penyakit autoimun yang disebabkan sistem imun menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Karenanya orang dengan lupus atau odapus memiliki risiko terhadap berbagai jenis infeksi bakteri maupun virus.

“Kondisi kekebalan odapus itu tidak sempurna, tetapi kalau patuh minum obat sesuai petunjuk dokter kondisinya diharapkan akan baik-baik saja layaknya orang normal,” jelasnya menyongsong peringatan Hari Lupus Dunia yang jatuh setiap tanggal 10 Mei.

Baca Juga :  Sambut HUT ke-52, Pemprov Bali dan PMI Gelar Donor Darah

Dia menyebutkan bahwa sistem kekebalan tubuh menjadi pertahanan utama terhadap kuman serta penyakit. Sementara odapus lebih rentan terhadap infeksi karena sistem kekebalan tubuh bekerja secara berbeda dari orang pada umumnya. Sistem kekebalan pada odapus bekerja terlalu aktif dan menyerang tubuh sendiri.

Untuk itu dia kembali menekankan kepada odapus untuk rutin memeriksakan diri ke dokter dan mengonsumsi obat agar lupus bisa dikendalikan. Dengan rutin konsumsi obat akan mengurangi kerentanan atau risiko terhadap infeksi bakteri atau virus, termasuk Covid-19.

“Asalkan minum obat dengan baik dari dokter risiko infeksi kuman bisa ditekan, tapi kalau tidak patuh minum obat ya rentan, “terang Ketua Departemen Penyakit Dalam FKKMK UGM ini.

Baca Juga :  PLN Raih 2 Penghargaan di Ajang Top CSR Awards 2020

Lupus bisa menyerang siapa saja di segala usia. Kendati begitu, penyakit ini kebanyakan diderita oleh wanita usia produktif. Sekitar 80-85% penderita lupus merupakan wanita.

Lupus dikenal sebagai penyakit seribu wajah karena gejala dan sakit yang ditimbulkan beragam mirip dengan penyakit lain. Gejala yang bisanya muncul adalah sering mengalami nyeri sendi, ruam kemerahan di wajah dan tubuh, sering demam, lelah, sariawan, rambut rontok, kulit sensitif terhadap sinar matahari, dan nyeri dada.

Pakar Rematologi ini menyebutkan hingga saat ini penyebab lupus belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah faktor diduga beperan pada patofisiologi lupus seperti genetika, infeksi, polusi, dan makanan tidak sehat.

Baca Juga :  Peran Media dalam AKB Menuju Indonesia Tangguh Berdasarkan Pancasila

“Lupus tidak bisa disembuhkan secara total, tetapi ada yang namanya remisi,” jelasnya.

Remisi merupakan kondisi klinis sama seperti orang normal. Namun ada yang tetap membutuhkan obat dan pada beberap kasus bisa lepas obat.

Meski tidak dapat disembuhkan, lupus bisa dikendalikan dengan rutin memeriksakan diri ke dokter. Penyakit ini menjadi bahaya jika tidak terkontrol dan ditangani dengan baik. Pasien akan sulit tertolong apabila lupus telah meyerang organ dalam seperti ginjal, paru-paru, hingga otak.

Baca Juga :  Sekolah Keluarga: Membangun Pola Asuh & Menjaga Kesehatan Anak di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

“Odapus juga diharapkan bisa menjaga pola hidup sehat, patuh konsumsi obat dan menghindari faktor pencetus kekambuhan,” tuturnya.

Lupus merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang masih menjadi persoalan kesehatan dunia. Hingga saat ini diperkirakan terdapat 5 juta pasien lupus yang tersebar di seluruh dunia dan jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya. (ika/humas-ugm/bpn)