dr.Tirta

BALIPORTALNEWS.COM – Dokter Tirta Mandira Hudhi atau dr.Tirta yang sekaligus influencer meminta masyarakat untuk tidak menjauhi tenaga medis maupun pasien Covid-19.

“Jangan ada stigma negatif pada tenaga kesehatan ataupun pasien Covid-19, karena orang kena Covid-19 itu bukan aib,” katanya dalam diskusi secara daring bertajuk “Bagaimana Bereaksi Sosial Lewat Sosial Media”, Selasa (7/4/2020).

Dalam diskusi yang diselenggarakan Satgas Covid-19 UGM dan tim HPU dalam rangka peningkatan keterampilan edukasi dan aksi sosial secara daring dalam penanganan Covid-19, dia menegaskan bahwa yang seharusnya dijauhi adalah virusnya bukan orangnya.  Dalam menanggapai fenomena ini, dia menjelaskan relawan termasuk agen yang memiliki peran penting guna meluruskan stigma negatif yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, relawan memegang peran strategis dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat dengan informasi yang benar dan tepat seputar Covid-19, mulai dari apa itu covid, cara penularan, hingga cara pencegahannya.

“Jadi relawan itu ada medis dan non medis. Relawan medis berjuang langsung dengan pasien dan relawan non medis berjuang di belakang dengan edukasi dan prevensi,” jelas alumnus FKKMK UGM ini.

Baca Juga :  Konsisten Salurkan Bantuan Pandemi, AHM Raih Penghargaan IBCSI 2020

Dalam mengedukasi masyarakat, disebutkan Tirta relawan diharapkan dapat memahami karakteristik masyarakat terlebih dahulu. Misalnya, ketika berhadapan dengan masyarakat kelas menegah ke bawah seperti di terminal, pasar, TPA, dan lainnya dalam penyampaiannya menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal.  Hal tersebut berbeda saat berhadapan dengan masyarakat kelas menegah ke atas yang bisa disampaikan dengan lebih formal.

“Kalau kelas menengah ke atas pakai IG saja kelar. Kalau kelas menegah ke bawah harus didatengin dan diajari langsung. Ada contoh, seperti cara cuci tangan yang benar, pakai masker, cara batuk ,dan lainnya,” tuturnya.

Tirta menyampaikan dalam bertugas mengedukasi masyarakat, relawan diharapkan bekerja berdasar data dari sumber terpercaya seperti WHO, CDC, Kemenkes, dan Dinkes. Edukasi yang bisa dilakukan antara lain terkait pola hidup bersih dan sehat (PHBS), physical distancing dan social distancing, hindari stigmatisasi tenag akeshatan dan pasien Covid-19, tidak mudik, dan lainnya.

“Rumus menangani Covid ini adalah tidak takut, tapi wasapada. Tidak meremehkan, tapi tenang,” tandasnya.

Baca Juga :  Cara Raih Peluang Kerja di Tengah Pandemi

Dalam diskusi tersebut turut disampaikan cara berkomunikasi untuk aksi sosial di media sosial oleh Dr. Supriyati, dosen FKKMK UGM. Dia memaparkan terdapat sejumlah permasalahan yang biasanya terjadi saat berkomunikasi. Antara lain, pesan tidak sesuai dengan kebutuhan sasaran, pesan tidak diterima sesuai persepsi pengirim pesan, pesan yang disampaikan tidak teramin kebenarannya, serta tidak memperhatikan empati.

“Gunakan komunikasi dengan empati dan pastikan timing-nya tepat,” terangnya.

Dia pun membagi sejumlah tips agar komunikasi yang dijalankan dapat berjalan secara efektif dan pesan bisa tersampaikan dengan baik. Salah satunya dengan menguasai materi atau pesan yang akan disampaikan. Selain itu, menerapkan keterampilan dasar komunikasi dengan baik seperti self discourse, mendengar, bertanya, keselarasan verbal dan non verbal.

Berikutnya, menumbuhkan empati dan membangun hubungan. Tidak kalah penting adalah bisa mendorong gerakan sosial.

“Pada prinsipnya, aksi sosial yang teman-teman lakukan sebagai relawan adalah melakukan pendidikan kesehatan dengan memberi infromasi, mengedukasi dan memberdayakan masyaraka. Hal kecil yang kita lakukan bersama-sama dan konsisten akan menghasilkan perubahan besar,” ujarnya. (ika/humas-ugm/bpn)