BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang didengungkan pemerintah, masih terbentur infrastruktur perpustakaan sekolah. Di Denpasar, misalnya, banyak Sekolah Dasar (SD) yang kondisi perpustakaan sekolahnya memprihatinkan. Padahal perpustakaan merupakan kebutuhan dan syarat terciptanya standar pelayanan pendidikan di sekolah.

KLIK GAMBAR DI ATAS UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI LEBIH LANJUT !!!

Kabid Pembinaan Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Ketut Sudana, Senin (4/9/2017) lalu mengatakan, sebanyak 66 SD di Denpasar terutama SD negeri belum memiliki perpustakaan. Alasannya beragam, mulai dari pihak sekolah kesulitan menyediakan ruangan hingga kesulitan pengadaan buku.

Sudana menjelaskan dari 238 SD/MI negeri dan swasta di Kota Denpasar, hanya 159 SD yang memiliki perpustakaan. ‘’Yang 159 perpustakaan tersebut pun kami kira tidak semuanya representatif atau layak disebut ruang perpustakaan,’’ kata dia.

Menurut Sudana, banyak sekolah yang belum memiliki perpustakaan karena kesulitan biaya. Apalagi selama ini masih banyak sekolah yang masih kekurangan ruang belajar. Ia pun mengakui, keberadaan perpustakaan sebagai fasilitas pendukung pendidikan sangat penting dalam peningkatan kegiatan belajar mengajar.

Baca Juga :  Ny Putri Koster Serahkan Bantuan 410,9 Ton Beras dan 90.000 Masker Kain

‘’Perpustakaan sekolah harus mampu menyediakan fasilitas yang memadai terutama dari segi koleksi buku sebagai referensi belajar. Itu yang semestinya harus disediakan,’’ katanya.

Menurut Sudana, idealnya tiap sekolah memiliki ruang belajar, ruang pimpinan dan guru, UKS, ruang konseling, laboratorium, perpustakaan, dan toilet. “Masih ditemukan di satu sekolah, ada ruang UKS tapi berdampingan dengan ruang guru, karena keterbatasan ruangan yang ada di sekolah. Ke depannya harus kita benahi. Jangan sampai ditemukan lagi sekolah mengalami kerusakan malah tidak diurus, terkesan ditinggalkan,” pungkasnya.

Salah satu sekolah yang tidak punya perpustakaan adalah SDN 2 Penatih. Hingga sekarang, SD negeri yang berlokasi di Jalan Nagasari, Penatih, Dangin Puri, Denpasar Timur itu belum memiliki ruang perpustakaan untuk memfasilitasi murid-murid menambah pengetahuan melalui kegiatan membaca.

‘’Kalau harus membangun, kami ambilkan dana pembangunan perpustakaan dari mana. Memungut dari orang tua siswa, sudah tak mungkin bahkan itu sudah dilarang,’’ kata Kepala SDN 2 Penatih, Wayan Kantra.

Baca Juga :  Menuju Bali Sarwada

Selain biaya, jumlah ruangan di sekolah tersebut juga terbatas. Ruangan yang ada hanya cukup untuk ruang kelas serta ruang guru. Maka, sebagai alternatif, pihak sekolah terpaksa memanfaatkan rumah dinas guru yang tidak ditempati dijadikan ruang perpustakaan. Mirisnya, kondisi rumah dinas itu pun sudah sangat tak layak.

‘’Kami terpaksa menggunakan rumah dinas guru sebagai perpustakaan karena tidak ada lagi ruang yang bisa digunakan untuk tempat membaca siswa. Padahal, kondisi rumah dinas itu pun jauh dari ideal sebagai perpustakaan,’’ ujarnya

Ruangannya sempit, sehingga murid yang ingin membaca harus bergantian masuk untuk mengambil buku. Jadi, kalau mereka mau membaca, harus membaca di luar ruangan.

Meski demikian, aku Wayan Kantra, minat baca siswa tak pernah surut walaupun ruangannya sempit dan tak layak. Bahkan, sebagian buku bacaan ditaruh di ruangan kelas dijadikan perpustakaan kecil di masing-masing kelas.

Baca Juga :  Hari Ini, 2 Pasien Covid-19 Denpasar Sembuh, Tidak Ada Penambahan Kasus Positif

‘’Saya berharap, dengan minat baca siswa yang tinggi ini mendapat dukungan untuk dibuatkan sarana yang memadai. Anak yang ada di kampung ini juga memiliki keinginan dan cita-cita yang tinggi seperti anak-anak yang bersekolah di kota pada umumnya,” ungkapnya.

Ia berharap, Pemkot Denpasar bisa melengkapi sarana dan prasarana SDN 2 Penatih. Dia menjelaskan, ruang perpustakaan sangat dibutuhkan karena saat akreditasi akan ditanya semua berdasarkan standar yang telah ditetapkan.

“Saya berharap, ruang perpustakaan di sini lengkap agar siswa bisa nyaman saat membaca. Selain itu, dengan membaca, siswa juga bisa mengetahui banyak hal,” pungkasnya. (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :