BALIPORTALNEWS.COM – Oka Astawa tertarik untuk menjadikan Palemahan, sebagai sebuah frame yang membingkai peristiwa pamerannya kali ini. Frame kuratorial ini mencoba merepresentasikan bagaimana Oka membaca tema seputar alam dan isu isu ekologis dalam karyanya dari perspektif dirinya sebagai orang Bali.

Dalam karya – karyanya tentu saja nilai – nilai lokal tersebut tidak ditampilkan secara banal dalam bentuk visual. Kelokalan atau ke-bali-an pada proses kreatif Oka berada sebagai bagasi pengetahuan, sebagai stimulasi yang memantik proses kreatifnya dalam menghadirkan karya – karya lukisannya.

Menilik karya – karya lukisannya terbaca bagaimana Oka melakukan artikulasi terhadap tema yang terkait dengan persoalan alam dan isu ekologi kini. Persoalan alih fungsi lahan dari agraris ke industri misalnya coba ia representasikan dalam karya yang berjudul “Petani”.

Dalam karya terlihat abstraksi figur dalam gestur berdiri termangu sembari memegang cangkul, adanya abstraksi objek cangkul pada karya tersebut memperlihatkan bahwa sosok tersebut adalah seorang petani. Sosoknya kini tersendiri, menyepi di riuhnya industri, mencoba bertahan di tengah himpitan keadaan yang tak menguntungkan.

Baca Juga :  Sembuh 18 Pasien, Jembrana Nihil Covid-19 Hari Ini

Berbagai perubahan sosial dan tatanan ekologis di Bali, menurut Oka adalah dampak dari berbagai kepentingan dari berbagai pihak terhadap Bali. Pariwisata yang sudah kadung menjadi branding Bali, secara ekonomi tentu saja sangat potensial untuk dikembangkan. Namun tak jarang niat untuk mengembangkan tersebut terpeleset menjadi niat untuk menguasai dan mengeksploitasi alam dan budayanya secara berlebih.

Tak ayal Bali kemudian jadi ajang perebutan kepentingan para pemodal besar misalnya yang ingin “menguasai” dan mengeksploitasi alam dan budaya Bali secara berlebih hanya untuk kepentingan pribadinya. Narasi inilah yang Oka hadirkan pada karya yang berjudul “Tarik Ulur”, berupa penggambaran dua figure yang sedang bermain tarik tambang dimana Bali yang secara banal digambarkan oleh Oka sebagai gambar pulau Bali ada diantara jeratan tali yang sedang dimainkan oleh dua figur yang abstraktif tersebut.

Kita semua rasanya bersepakat bahwa penghijauan adalah sebuah upaya untuk “investasi” ekologis di masa yang akan datang. Begitu pula dengan Oka, dalam karya yang berjudul “Menjaga Keseimbangan” dan “Tak Ada Tempat Berteduh” terlihat Oka ingin bertutur soal pentingnya aktivitas penghijauan demi menjaga kelestarian alam. Dalam “Menjaga Keseimbangan” Oka merepresentasikan bagaimana pentingnya penghijauan ditengah kondisi alam yang semakin mengkawatirkan.

Baca Juga :  Ubah Strategi Layanan, Home Spa Jadi Alternatif Dimasa Pandemi

Aktivitas penghijauan bagi Oka adalah salah satu cara yang dapat dilakukan semua orang, sebagai sebuah kesadaran untuk menjaga keseimbangan kondisi ekologis. Sedangkan dalam karya yang berjudul “Tak Ada Tempat Berteduh” adalah gambaran imajinasi Oka yang membayangkan betapa gerah, kering, dan tandusnya bumi ini kelak jika semua pohon sudah habis ditebang dan tak ada usaha untuk melakukan penghijauan sejak dini.

Kemarahan, dan kekecewaan Oka melihat tingkah polah pihak-pihak yang semena mena mengeksploitasi alam secara berlebih untuk kepentingan pribadinya terepresentasikan pula dalam karya lukisannya. Namun karya tersebut cukup sublim dalam menyajikan kemarahan, sehingga bukan sebuah teriakan ataupun ungkapan-ungkapan heroik yang terlihat adalah gestur yang sesekali ditingkahi oleh simbol simbol tertentu.

Lihat misalnya dalam karya yang berjudul “Kepala Panas” yang memperlihatkan bagaimana sosok figur yang sedang memegangi kepalanya. Atau karya yang berjudul “Derita dan Amarah” yang menampilkan gestur figur yang berjongkok namun tidak menunjukkan keterpurukan yang pasrah tapi sebuah semangat, sebuah luapan kemarahan yang meletup, yang dipresentasikan dengan simbol kobaran api di tangan. (r/bpn)