BALIPORTALNEWS.COM – Psikolog Aritya Widiyanti mengatakan, sekolah bukan hanya tempat untuk anak belajar, tapi guru pun juga ikut belajar dari keberagaman anak dididiknya. Misalnya guru memperoleh hal yang baru tentang cara mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan dari keunikan serta potensi setiap anak.

‘’Lingkungan pembelajaran yang ramah berarti ramah kepada anak dan guru, artinya anak dan guru belajar bersama sebagai suatu komunitas belajar. Menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran. Mendorong partisipasi aktif anak dalam belajar. Guru memiliki minat untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik,’’ ujar Psikolog Aritya Widiyanti saat tampil di sosialisasi membangun masyarakat inklusif, adil dan berkesinambungan bagi penyandang disabilitas guna memperkuat Kota Denpasar sebagai Kota Layak Anak yang digelar Pusat Layanan Autis Kota Denpasar, belum lama ini. 

Nara sumber lain, Ni Wayan Ratih Tritamanti, guru SLB A Negeri Denpasar, mengatakan, pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak belajar bersama-sama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individual, sehingga potensi anak dapat berkembang secara optimal.

Semangat pendidikan inklusif adalah memberi akses yang seluas-luasnya kepada semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Psikolog Agus Binti Khoiriyah menambahkan, prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Jadi disini setiap anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain sehingga kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.

Bagaimana sekolah inklusi memberikan pelayanan anak berkebutuhan khusus? Pelayananan pendidikan yang diberikan secara bersamaan, sehingga akan terjadi interaksi antara keduanya, saling memahami, mengerti adanya perbedaan, dan meningkatkan empati bagi anak-anak reguler.

Untuk proses belajar mata ajaran tertentu bagi sebagian ABK dengan kategori autis,  tuna netra, tuna rungu, atau tuna grahita, ABK tersebut dimasukkan di dalam ruang khusus untuk ditangani guru khusus dengan kegiatan terapi sesuai kebutuhan.

Ketua Panitia I Nyoman Handika, S.Si., mengungkapkan, sosialisasi ini dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional. Kegiatan sosialisasi bertujuan membangun masyarakat inklusif, adil dan berkesinambungan bagi penyandang disabilitas guna memperkuat Kota Denpasar sebagai Kota Layak Anak.

‘’Kita mencoba memberikan pemahaman tentang pendidikan iklusif kepada orangtua, pendidik dan masyarakat. Kedua, menyamakan persepsi orangtua dan lembaga atau satuan pendidikan tentang layanan inklusif di santuan pendidikan atau lembaga lainnya,’’ ujarnya. (pra/bpn)

 

Keterangan Foto: SOSIALISASI – Psikolog Aritya Widiyanti, guru SLB A Negeri Denpasar, Ni Wayan Ratih Tritamanti, dan psikolog Agus Binti Khoiriyah saat tampil di sosialisasi membangun masyarakat inklusif, adil dan berkesinambungan bagi penyandang disabilitas yang digelar Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini