Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Perpaduan tabuh gamelan gong, gender, slonding, jegog, angklung, semarandana, dan beleganjur mewarnai acara Upacara Petinget Tumpek Krulut yang berlangsung di Lapangan Puputan Badung Gusti Ngurah Made Agung Sabtu (22/10/2016).

Pemkot Denpasar menggelar pemujaan Petinget Tumpek Krulut secara khusus dan dihadiri Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar berserta seluruh SKPD Kota Denpasar.

Sebagai sujud dan syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas manifestasinya terciptanya suara-suara suci atau tabuh dalam kehidupan. Maka dalam Upacara Tumpek Krulut tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Dimana sebelum persembahyangan dimulai anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia Kota Denpasar di bawah binaan Ny. Selly Dharmawijaya Mantra ngaturan ngayah Tari Rejang Renteng.

Baca Juga :  Selamatkan Anak Putus Sekolah dengan Pendirian Institute Teknologi Blockchain Indonesia

Setelah persembahyangan usai dilanjutkan dengan Upacara Ngelawang dan Sesolahan dari sanggar Siwer Nadi Swara Banjar Pagan Kelod Denpasar Timur.

Forum Tenaga Penyuluh Lapangan Agama Hindu Kota Denpasar, Cok Putra Wisnu Wardana mengatakan, upacara keagamaan Tumpek Krulut ini ditujukan sebagai upaya untuk memuja manifestasi Tuhan yakni Betara Iswara sebagai penguasa tetabuhan dan sarwa gambelan.

‘’Sebagai sarana sebagai material adalah benda kesenian itu sendiri yaitu tetabuahan dan sejenisnya,’’ ujarnya.

Tumpek Krulut dikenal juga dengan Tumpek Lulut. Kata Lulut dalam Bahasa Bali berarti jalinan atau rangkaian cinta kasih. Hari Tumpek Krulut jatuh pada hari Sabtu, kliwon, wuku Krulut, setiap 6 bulan (210 hari) sekali. Pada hari ini kita memuja Tuhan dalam manistasinya sebagai Dewa Iswara.

Baca Juga :  Karena Alasan Ini, Keluarga WNA Terpidana Kasus Penodaan Agama Minta Pendeportasian Dibatalkan

‘’Kita bersyukur atas terciptanya suara-suara suci atau tabuh. Oleh karena itu pada hari ini juga sering disebut dengan Odalan Gong. Tujuannya adalah agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki suara yang indah dan taksu,’’ ujarnya.

Sedangkan Makna dari Krulut  itu sendiri kata Cok Putra adalah welas asih atau cinta kasih dan turunnya cinta kasih ini diwujudkan dalam bentuk nada yang merdu dan indah. Selain itu Tumpek Krulut kasih sayang Panca Tirta Dewa Samara serta lima nada perwujudan Samara Ratih atau Panca Geni. Pertemuan Panca Tirta dan Panca Geni menjadi suara genta pinara pitu menjadi nada  dasar sebagai seluruh gambelan.

Baca Juga :  Koprodi S2 Pariwisata dan Pejabat Bappenas Tanda Tangani Kontrak Splite-Site Master Program Unud dengan Griffith University Australia

Dalam hal ini pertemuan itu dinamakan kalulut asih  atau membangkitkan rasa sayang disebut senggara rasa sebagai pendakian kasih sayang atau sebuah bakti yang ditunjukan pada tuhan. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan, perayaan Tumpek Krulut hampir sama dengan tumpek lainnya.

Untuk itu perlu disosialisasikan karena Bali memiliki banyak hari-hari baik. Ia mengharapkan masyarakat mengetahui makna dari Tumpek Krulut itu sendiri. Sehingga untuk ke depan semua masyarakat bisa memahami perayaan untuk alat musik tradisional. (bpn)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here