BALIPORTALNEWS.COMPolitik  merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan perjalanan suatu bangsa dan negara. Lebih dari itu politik juga bisa menyelamatkan suatu bangsa dan negara dari kondisi buruknya. Salah satu tempat pembelajaran ilmu politik adalah perguruan tinggi, di mana  dalam perguruan tinggi bertugas  menelorkan para politikus memegang peran penting dalam melahirkan pemikiran pemikiran baru dalam dunia perpolitikan.

Untuk itu, ilmu politik yang diberikan di tingkat perguruan tinggi sebaiknya disesuaikan dengan situasi atau fakta fakta yang terjadi  dalam kancah dunia politik yang sesungguhnya. Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutan lisannya saat membuka International Conference on Social And Political Issues (ICSPI) di Hotel Sanur Paradise Plaza Hotel, Denpasar ,  Rabu (19/10/2016).

Ia berharap  event   yang meghadirkan para pakar politik baik yang berasal dari Indonesia maupun manca negara,  dapat dmanfaatkan  membahas secara mendalam situasi politik yang sesungguhnya yang terjadi baik di tataran nasional bahkan dunia.

“Banyak para politikus yang bukan jebolan sekolah politik, politik dalam prakteknya sering  berbeda dengan apa yang dipelajari di bangku kuliah , untuk itu melalui konferensi ini saya harap ada pemikiran pemikiran baru sehingga pendidikan politik bisa lebih pada fakta nyata yang dihadapi seorang politikus ketika terjun di dalamnya, “ imbuhnya.

Kegiatan yang diselenggarakan untuk pertama kalinya oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  (FISIP) Universitas Indonesia ini juga menghadirkan Presiden ke-6 Republik Indonesia Prof. DR. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pembicara utama. Dalam paparannya Presiden SBY yang mengusung tema“Knowledge and Social Transformation “ ini menyampaikan eratnya peran ilmu pengetahuan dengan transformasi sosial yang dialami suatu negara.

Secara panjang lebar SBY memaparkan begitu banyak  Indonesia kehilangan momen transformasi sosial penting yang terjadi di dunia, seperti momen Revolusi militer, revolusi industri yang terjadi di inggris, dan revolusi politik yang terjadi di beberapa negara Eropa dan Amerika Latin yang bisa membawa pengaruh apda Indonesia.

Menurutnya momen penting ini terjadi pada saat di mana rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan dan kebodohan dan tidak berpengetahuan, bahkan di saat Indonesia memproklamirkan Kemerdekaannya, rakyat Indonesia 90 % masih dalam kondisi buta huruf.  Ketika bapak bangsa ini mulai mengenal pengetahuan dan kehidupan modern maka babak baru sejarah bangsa Indonesia di mulai, di mana kedaulatan bangsa Indonesia diakui dunia setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam perjalanannnya dalam setiap era di Indonesia mengalami sejumlah tantangan.

SBY yang mengangkat isu Transformasi pada saat dirinya bertarung di Pilpres 2004 menegaskan bahwa transformasi lebih sekedar dari proses reformasi. Transformasi memerlukan cara pandang, sistem pengelolaan yang baru dan lembaga yang berkembang yang bisa menempatkan posisi Indonesia di mata dunia yang diyakini akan berimbas pada bangsa ini di segala aspek. Transformasi terbesar di abad ke 21 menurut SBY tidak lagi berfokus pada proses pembangunan bangsa, namun adalah pembangunan demokrasi.

Tidak sekedar menghargai perbedaan, melindungi integritas bangsa, tapi menghargai perbedaan pendapat baik itu dalam bentuk kebebasan berekspresi, kebebasan berkumpul, dan kbebeasan pers. Hal ini pastinya akan membawa pengaruh bagi Indonesia di mata dunia dan sebaliknya. Ia memastikan setelahmengalami tarnsformasi sosial akan banyak invetasi masuk ke Indonesia dalam bentuk modal, perdagangan, wisatwan dan pembangunan  infrastruktur, dan hal ini pula yang membuat Indonesia terhubung dengan sejumlah negara tetangga yang tergabung dalam komunitas  ASEAN di kawasan Asia Tenggara.

“Ini merupakan tranformasi sosial yang luar biasa yang dialami oleh bangsa kita,” ujarnya.  

Tidak saja di kawasan ASEAN , selanjutnya Indonesia juga mulai terlibat terhadap permasalahan dunia terkait keberlangsungan bumi, umat manusia dan generasi yang akan datang. Pada kesempatan itu SBY juga menekankan pentingnya kesamaan dalam pertumbuhan berkelanjutan dalam isu lingkungan yang tengah terjadi saat ini. Ia berharap perguruan tinggi juga bisa melakukan transformasi inovatif dalam ekosistem yang berimbas pada masyarakat dan lingkungan.

Di akhir sambutannya menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan tranformasi sosial saat ini telah menjadi instrument bagi perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Keduanya telah memperkuat kebangsaan, membangun demokrasi dalam menjawab tantangan. “Mari kita bekerja sama dengan konstruktif membangun Indonesia di abad 21 ini, dan mari kita jaga keberlangsungan mahluk hiduk, iklim bagi masa depan umat manusia”, ujarnya. 

Dalam konferensi tingkat dunia yang berlangsung dari tanggal 19-20 Oktober 2016 ini dikuti oleh 122 peserta yang berasal dari 9 negara termasuk Indonesia dan terbagi dalam 2 sesi pleno dan 4 sesi pararel dan   menghadirkan beberapa  pembicara dari luar negeri antara lain Prof.  Donald K. Emmerson (Stanford University), Prof Vedi R. Hadiz (University Of Melbourne) serta Prof.  Jim Lfe (Curtin University). (hms prov. bali/bpn)         

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini