BALIPORTALNEWS.COM – Berlangsung acara rapat dan tatap muka tokoh masyarakat (tomas) Desa Sandam Kecamatan Pupuan, Tabanan, dengan BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Bali dan Pemkab Tabanan, di Gedung BUMDes Desa Sanda, Pupuan, Rabu (14/9/2016). Rapat membahas permasalahan penutupan proyek Taman Teknologi Pertanian (TTP) di Desa Sanda.

Hadir dalam acara tersebut, antara lain Kepala Bappeda Tabanan Ida Bagus Wiratmaja, Kepala BPTP Propinsi Bali Anak Agung Kamandalu, Sekda Tabanan I Nyoman Wirna Ariwangsa, Asisten I I Wayan Yatnanadi, Dinas PU Tabanan I Nyoman Parwata dan Farida. Hadir pula dari unur Dispenda Tabanan, Camat Pupuan, Perbekel Desa Sanda, Kontraktor PT Taurus Jaya, Bendesa Adat Sanda, Pelaksana Proyek TTP, BPTP Dr. Ir. I Gusti Komang Dana Arsana, serta tokoh masyarakat.

Rapat membahas tiga permasalahan. Antara lain masalah sumber air yang keruh. Air tersebut merupakan yang dikonsumsi warga Desa Sanda. Juga soal perbaikan akses jalan, agar diperhatikan dan  dikerjakan. Terlebih jalan tersebut merupakan akses jalan warga dalam membawa dan menjual hasil pertanian.

Permasalahan juga menyinggung tentag tanah warga yang terkena proyek, yang dijanjikan akan diberikan kemudahan dalam mengurus SPPT. Namun sampai saat ini belum terealisasi dari pemda.

Menanggapi tiga permasalahan tersebut, dijelaskan Sekda Ariwangsa bahwa intinya agar diselesaikan secara bijaksana. Diharapkan agar proyek TTP tetap berjalan. Air bersih, jalan, dan SPPT sudah jadi prioritas, namun tidak cepat mengingat di pusat ada pemangkasan dana.

Kepala Bappeda Tabanan pun mengatakan, ketiga masalah tersebut sudah dibahas. Saat ini dihadirkan Dispenda Tabanan. Jalan yang rusak terlebih dahulu diseleksi, di mana medan yang perlu diperbaiki. Begitu pula masalah air akan dibantu melalui Pamsimas.

“TTP merupakan destinasi pariwisata berbasis pertanian. Permintaan Bappeda agar permasalahan dan mencarikan solusi secara bersama-sama dengan bendesa adat, perbekel, pengelola air BPTP, dan pemda,” katanya.

Kepala BPTP AA Kamandalu pun minta agar TTP ini didukung, dan setiap permasalahan agar dicarikan solusi yang terbaik.

Sementara Bendesa Adat I Made Widayana mengatakan, intinya menerima proyek TTP, dengan enam poin. Antara lain kompensasi tanah dari pemda, eksekusi lahan menghormati kearifan lokal, sumber air agar dijaga kesuciannya, tenaga kerja diharapkan prioritas tenaga lokal, kontribusi nyata kepada desa dinas dan desa adat bila TTP sudah berjalan.

“Diharapkan pula agar di lokasi TTP yang merupakan lokasi hulu dibuatkan tempat suci, sesuai dresta dan tatanan Desa Sanda yang merupakan desa tua, yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal,” harapnya.

Selanjutnya, proyek TTP akan dilanjutkan kembali, sambil berjalan menyelesaikan permaslahan yang ada. Antara desa adat, desa dinas, pemda, dan BPTP sepakat menyelesaikan bersama-sama. (ita/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini