Pande Kirana Tunggadewi Widura, Ning Ayu 2026 yang Siap Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Bali
Pande Kirana Tunggadewi Widura, Ning Ayu 2026 yang Siap Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Bali. Sumber Foto : tis/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Mahkota Ning Ayu 2026 yang kini disandang Pande Kirana Tunggadewi Widura menjadi awal perjalanan baru bagi mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar itu untuk berkontribusi bagi pelestarian budaya Bali. Di balik prestasi tersebut, tersimpan perjuangan melawan rasa takut, keraguan diri, hingga tekad kuat mengajak generasi muda tetap bangga terhadap budaya leluhurnya.

Ditemui di Denpasar, Jumat (17/7/2026), Kirana menuturkan bahwa budaya dan modernitas bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Menurutnya, budaya akan tetap hidup apabila generasi muda memiliki rasa bangga dan mau terus melestarikannya.

“Menurut saya tradisi budaya tidak perlu dipertentangkan. Semuanya kembali kepada anak muda sendiri, apakah mereka masih mau menjaga, melestarikan, dan tetap bangga terhadap budaya tersebut,” ujarnya.

Perempuan yang menempuh pendidikan sejak SMP hingga SMA di Taman Rama itu mengaku, perjalanan menjadi Ning Ayu 2026 bukanlah sesuatu yang mudah. Tantangan terbesar justru berasal dari dalam dirinya sendiri.

“Tantangan terberat bagi saya adalah melawan rasa takut, rasa gugup, dan self doubt. Dari pengalaman itu saya belajar untuk lebih percaya bahwa saya mampu melewati semuanya,” katanya.

Perjalanan menuju gelar Ning Ayu dimulai melalui masa pra-karantina selama sekitar satu bulan, kemudian dilanjutkan karantina selama tiga hari dua malam sebelum malam Grand Final yang digelar pada 2 Juli 2026.

Selama masa karantina, para finalis dibekali berbagai materi, mulai dari beauty class, tata rias, pembentukan karakter, public speaking, hingga deep interview. Pada malam Grand Final, Kirana juga menyampaikan pidato bertema self love dan authenticity, yang menjadi tema utama Ning Ayu 2026.

Menariknya, meski kini dikenal sebagai duta budaya, Kirana mengaku sejak kecil memiliki ketertarikan pada dunia seni dan sains. Minat tersebut justru mengantarkannya memilih Program Studi Kedokteran Gigi karena melihat adanya perpaduan antara ilmu kesehatan dan seni estetika.

“Saya memang suka art dan sains. Di dunia kedokteran gigi juga ada unsur seni, terutama dalam estetika gigi dan mulut,” ungkapnya.

Bagi Kirana, pengalaman mengikuti Ning Ayu telah membawa banyak perubahan dalam hidupnya. Ia merasa lebih percaya diri, memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik, serta belajar memikul tanggung jawab yang lebih besar sebagai figur publik.

Kepercayaan masyarakat yang diberikan kepadanya ingin diwujudkan melalui programYoung Cultural Ambassador, sebuah inisiatif yang akan mengajak generasi muda lebih dekat dengan budaya Bali tanpa harus meninggalkan perkembangan zaman.

“Saya ingin mengajak anak-anak muda lebih mencintai dan melestarikan budaya di era modern sehingga budaya kita tetap hidup dan relevan,” ujarnya.

Kirana berharap budaya Bali tidak hanya diwariskan, tetapi juga terus dihidupkan oleh generasi muda melalui berbagai cara yang kreatif dan sesuai perkembangan zaman.

Kepada generasi muda yang ingin mengikuti ajang Ning Ayu berikutnya, ia berpesan agar tidak takut mencoba dan selalu percaya pada kemampuan diri sendiri.

“Yang paling penting adalah memiliki jati diri, percaya diri, berpikir positif, dan berani melawan rasa self doubt. Ajang ini memang tidak mudah, tetapi kalau yakin dengan kemampuan diri sendiri, pasti bisa melewatinya,” tutupnya. (tis/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News