
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Rasa lega dan haru tak mampu disembunyikan seniman ogoh-ogoh asal Banjar Tainsiat, Depasar, Komang Gede Sentana Putra atau yang akrab disapa Kedux, usai karya monumentalnya bertajuk “GAJAH” akhirnya tampil di panggung pembuka Denpasar Youth Festival (D’Youth Fest) 6.0, Jumat (11/7/2026) malam.
Bagi Kedux, penampilan Ogoh-Ogoh GAJAH bukan sekadar pertunjukan seni. Momen tersebut menjadi puncak dari perjalanan kreatif selama satu setengah tahun yang dipenuhi kerja keras, tekanan, dan pengorbanan hingga akhirnya berhasil dipersembahkan kepada ribuan penonton.
“Senang sekali akhirnya Ogoh-Ogoh GAJAH bisa tampil di D’Youth Fest 6.0. Rasanya beban selama satu setengah tahun langsung hilang. Seperti sudah tidak punya utang lagi karena akhirnya karya ini bisa dipertunjukkan kepada masyarakat,” ujar Kedux usai pertunjukan kepada Baliportalnews.com.
Ia mengungkapkan, proses penyelesaian karya berlangsung sangat menegangkan. Bersama timnya, mereka bahkan masih menyelesaikan sentuhan terakhir sekitar pukul 16.00 WITA, hanya beberapa jam sebelum pertunjukan dimulai.
“Sebenarnya bukan begadang lagi, memang tidak tidur sama sekali. Kami terus bekerja sampai selesai demi memberikan penampilan terbaik,” katanya.
Di balik kemegahan ogoh-ogoh tersebut, Kedux menyisipkan pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Inspirasi karya itu berangkat dari keprihatinannya terhadap kerusakan hutan dan ancaman terhadap satwa liar yang terjadi di Kalimantan.
Ia kemudian memaknai kata GAJAH sebagai akronim dari “Ganggu Alam, Jadi Ancaman Hidup”, sebuah pesan yang mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan pada akhirnya akan mengancam kehidupan manusia sendiri.

“Awalnya terinspirasi dari isu-isu kerusakan hutan dan satwa di Kalimantan. Saya kemudian memaknai kata GAJAH sebagai Ganggu Alam, Jadi Ancaman Hidup. Itu yang ingin kami sampaikan melalui karya ini,” jelasnya.
Selain menyampaikan pesan lingkungan, Kedux juga ingin membuktikan bahwa sebuah ogoh-ogoh mampu tampil hidup melalui kualitas gerak, ekspresi, dan artistik, tanpa harus bergantung pada atribut yang berlebihan.
Menurutnya, penampilan tahun ini menjadi jawaban atas berbagai keraguan yang sempat muncul terhadap konsep garapan yang diusungnya.
“Tahun ini kami mencoba menjawab pertanyaan teman-teman bahwa tanpa banyak atribut pun sebuah ogoh-ogoh tetap bisa tampil hidup dengan gerakan yang halus. Tahun depan tentu akan kami maksimalkan lagi,” pungkasnya.
Penampilan Ogoh-Ogoh GAJAH pun sukses mencuri perhatian ribuan pengunjung D’Youth Fest 6.0. Tak hanya menyajikan visual yang megah, karya tersebut juga menjadi media refleksi tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam melalui bahasa seni yang kuat dan penuh makna. (tis/bpn)












