
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Bali kembali menjadi pusat pertemuan akademisi dan pegiat kemanusiaan dunia melalui penyelenggaraan International Conference on Human Rights, Governance & Sustainable Futures (ICHRGSF) 2026 yang berlangsung pada 22 Juni 2026 di Auditorium Bali Dwipa University, Denpasar, Bali.
Konferensi internasional yang dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring) ini mengangkat isu besar mengenai hak asasi manusia, tata kelola pemerintahan, dan masa depan pembangunan berkelanjutan.
ICHRGSF 2026 menjadi ruang kolaborasi global yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, serta pegiat sosial dari berbagai negara untuk bertukar gagasan dan memperkuat komitmen dalam menciptakan dunia yang lebih adil, etis, dan berkelanjutan.
Pendiri Bali Dwipa University, Dr. Ir. I Wayan Adnyana, S.H., M.Kn, membuka secara resmi konferensi tersebut melalui pidato pembukaan (opening speech). Dalam tema yang diusung, ia menekankan pentingnya membangun dialog internasional, kolaborasi lintas negara, serta aksi nyata menuju masa depan yang lebih baik.
“Setting the stage for dialogue, collaboration and sustainable action for a better future,” menjadi semangat yang diangkat dalam pidato pembukaan tersebut sebagai ajakan kepada seluruh peserta dunia untuk bersama-sama memperkuat nilai kemanusiaan, tata kelola yang baik, dan keberlanjutan.
Rektor Bali Dwipa University, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Sucipta, MP.CH.CHT.CMH., menjadi salah satu keynote speaker utama dalam konferensi ini. Ia membawakan topik “Sustainable Higher Education Leadership: Cultivating Ethical Values, Human Dignity and Environmental Stewardship for Future Generations.”

Melalui paparannya, Prof. Sucipta akan membahas peran strategis para pemimpin pendidikan tinggi dalam memperkuat hak asasi manusia, membangun tata kelola yang beretika, serta mendorong kepedulian terhadap lingkungan melalui nilai-nilai moral, kearifan lokal, dan inovasi kolaboratif demi masa depan yang berkelanjutan.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII, Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU., ASEAN.Eng., menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan International Conference on Human Rights, Governance & Sustainable Futures (ICHRGSF) 2026 yang digelar oleh Bali Dwipa University bersama sejumlah perguruan tinggi mitra dari berbagai negara.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di Indonesia, khususnya di Bali, tidak hanya berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia di tingkat lokal, namun telah mampu menembus jejaring akademik internasional.
“Hari ini saya sangat bahagia melihat semangat kita bersama. Pendidikan tinggi tidak lagi hanya bergerak dalam lingkup lokal, tetapi sudah merambah ke tingkat internasional. Indonesia menjadi tuan rumah yang mempertemukan para peneliti dan akademisi dari berbagai negara untuk membangun kolaborasi yang nyata,” ujarnya.
Konferensi ini juga menghadirkan sejumlah akademisi internasional sebagai keynote speaker. Salah satunya adalah Prof. Dr. Wan Edura Wan Rashid, Direktur Institute of Business Excellence (IBE), Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia.
Ia akan menyampaikan materi bertema “Bridging Global Cooperation and Ethical Governance: Advancing Human Rights and Sustainable Development for a Better Future.”
Topik tersebut menyoroti pentingnya kerja sama internasional dan tata kelola yang beretika dalam memperjuangkan hak asasi manusia, mendorong pembangunan berkelanjutan, serta membangun masyarakat yang inklusif dan tangguh bagi generasi mendatang.
Pembicara internasional lainnya adalah Assoc. Prof. Dr. Izzatbek Rejapov, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Internasional Mamun University, Uzbekistan.
Dalam paparannya, Izzatbek membahas bagaimana kolaborasi antarnegara dan penerapan tata kelola yang beretika dapat berjalan beriringan untuk memperkuat institusi, memperluas kemitraan akademik global, dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi seluruh masyarakat dunia.
ICHRGSF 2026 juga menghadirkan tokoh hak asasi manusia internasional, Hans Noot, Wakil Ketua Human Rights Without Frontiers International (Belanda), sebagai pembicara utama.
Sebagai aktivis yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam perjuangan hak asasi manusia, demokrasi, dan supremasi hukum, Hans Noot akan berbagi pengalaman mengenai upaya mempertahankan kebebasan fundamental serta memperkuat martabat manusia di tingkat global.
Pengalamannya dalam advokasi internasional, dialog kebijakan, serta pembangunan kelembagaan menjadikan kehadirannya sebagai salah satu daya tarik penting dalam konferensi tersebut.
Fokus pada Lima Isu Strategis Global
ICHRGSF 2026 menempatkan lima tema utama yang menjadi fokus pembahasan, yaitu:
- Hak Asasi Manusia dan Keadilan Sosial (Human Rights & Social Justice);
- Keberlanjutan dan Lingkungan (Sustainability & Environment);
- Tata Kelola dan Kebijakan Publik (Governance & Public Policy);
- Environmental, Social and Governance (ESG) serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs);
- Penguatan Kapasitas dan Pendidikan (Capacity Building & Education).
Melalui konferensi ini, Bali Dwipa University bersama mitra internasional berharap dapat memperkuat jejaring akademik lintas negara, menghasilkan gagasan inovatif, serta mendorong langkah konkret dalam menjawab berbagai tantangan global.
Dengan mengusung semangat “Advancing Human Rights, Good Governance, and Sustainable Futures for All, ”ICHRGSF 2026 diharapkan menjadi wadah lahirnya kolaborasi baru antara dunia pendidikan tinggi, lembaga internasional, dan masyarakat global demi terwujudnya masa depan yang lebih adil, bermartabat, dan berkelanjutan. (ads/bpn)












