
BALIPORTALNEWS.COM, SEMARAPURA – Tingginya permintaan kain tenun tradisional Bali menjadi peluang besar bagi pelaku usaha lokal. Namun di balik meningkatnya pasar, para pengrajin masih menghadapi tantangan klasik berupa keterbatasan modal dan melonjaknya harga bahan baku.
Kondisi tersebut dirasakan oleh I Wayan Bagiarta, pelaku UMKM tenun ikat asal Klungkung yang telah menjalankan usaha pertenunan sejak tahun 1989. Untuk mendukung pengembangan usahanya, BRI hadir memberikan akses pembiayaan guna memperkuat kapasitas produksi sekaligus mendorong keberlanjutan usaha berbasis budaya lokal tersebut.
Bagiarta menceritakan, usaha tenun yang kini dikelolanya berawal dari kegiatan menenun yang dilakukan sang ibu secara tradisional di rumah. Seiring waktu, permintaan pasar terus meningkat sehingga usaha keluarga tersebut berkembang dan melibatkan sejumlah penenun lokal dari berbagai wilayah di Bali yang bekerja menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
“Awalnya orang tua yang menenun. Dari tahun 1989 mulai berkembang sampai memiliki banyak penenun,” ujar Bagiarta.
Pada masa puncaknya, usaha tersebut mampu memberdayakan hingga 15 penenun. Saat ini produksi masih berjalan dengan sistem kemitraan, di mana para penenun tetap bekerja dari rumah masing-masing untuk menjaga fleksibilitas sekaligus mempertahankan teknik tenun tradisional.
Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari kamen, sarung, hingga kain jumputan yang banyak digunakan untuk kebutuhan adat, upacara keagamaan, maupun seragam organisasi seperti PKK. Kain-kain tersebut dipasarkan ke berbagai toko kain dan sentra kebaya di Bali.
Permintaan pasar pun terbilang tinggi. Dalam sebulan, usaha milik Bagiarta menerima pesanan sekitar 500 lembar kamen dan 500 sarung. Namun karena proses produksi masih dilakukan secara tradisional, seluruh pesanan baru dapat diselesaikan dalam waktu tiga hingga empat bulan.
“Permintaan tetap ada dan cukup banyak. Namun pengerjaannya memang tidak bisa cepat karena semuanya masih menggunakan proses tradisional,” katanya.
Di tengah tingginya permintaan tersebut, para pelaku usaha tenun menghadapi tantangan berat berupa kenaikan harga bahan baku. Harga benang yang sebelumnya berkisar Rp400 ribu per pak kini meningkat hingga sekitar Rp900 ribu per pak. Padahal satu pak benang hanya mampu menghasilkan sekitar 80 meter kain tenun.
Untuk mengatasi kebutuhan modal yang terus meningkat, Bagiarta memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari BRI. Dana tersebut digunakan untuk mendukung operasional usaha sekaligus pengembangan fasilitas usaha, termasuk pembangunan homestore sebagai sarana pemasaran produk.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan bahwa dukungan pembiayaan kepada pelaku UMKM menjadi bagian dari komitmen BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya sektor riil yang berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah saat ini juga tengah mendorong penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk membangun homestore maupun sarana pendukung usaha lainnya.
“BRI mendukung kegiatan usaha pertenunan milik Wayan Bagiarta yang telah memberdayakan para penenun lokal. Dengan demikian, ekonomi masyarakat dapat terus hidup dan bergerak,” ujar Hery.
Ia menambahkan, kebutuhan permodalan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pelaku usaha setiap tahun. Karena itu, peran perbankan menjadi sangat penting dalam memperkuat kapasitas usaha masyarakat agar mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
“Permodalan berupa pinjaman akan selalu dibutuhkan masyarakat untuk mengembangkan maupun memperbesar skala usahanya. Di sinilah peran bank dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama pada sektor riil dan UMKM,” jelasnya.(*/bpn)












