
BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Suasana penuh khidmat dan bhakti menyelimuti pelataran Taman Dedari di kawasan Kedewatan, Ubud, saat dilangsungkannya rangkaian Upacara Palebon Ida Pedanda Istri Purnama dari Griya Gede Simpangan Manuaba Bunutan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar pada Minggu, 24 Mei 2026.
Prosesi sakral ini menjadi simbol penghormatan terakhir yang luhur bagi perjalanan suci seorang sulinggih menuju Sunya Loka.
Dalam upacara tersebut, Taman Dedari mempersembahkan tempat pelaksanaan pabasmian serta sarana suci berupa lembu putih sebagai bagian penting dari rangkaian yadnya. Kehadiran tempat suci di kawasan Taman Dedari dipilih melalui koordinasi serta persetujuan adat, sehingga prosesi dapat berlangsung sesuai tata nilai agama Hindu dan tradisi Bali yang diwariskan turun-temurun.
Palebon dipuput oleh Ida Pedanda Gde Putra Mayun dari Griya Mayun Manuaba Banjar Bakbakan, Desa Cau Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Prosesi ini juga mendapat dukungan penuh dari Puri Saren Agung Ubud sebagai bentuk sujud bhakti dan penghormatan kepada sulinggih, sekaligus menjaga kelestarian warisan spiritual dan budaya Bali.
Semangat gotong royong atau ngayah dari krama adat turut menjadi kekuatan utama dalam penyelenggaraan karya suci tersebut. Kehadiran masyarakat yang bahu-membahu menyiapkan seluruh rangkaian upacara mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dalam tradisi Bali.

Sebagai bagian dari persembahan suci, digunakan Padma Putih Kuning dan Patulangan Lembu Putih yang dimaknai sebagai simbol kesucian serta sarana pengantar perjalanan atma menuju alam yang lebih luhur. Patulangan Lembu Putih tersebut dipersembahkan oleh Prof. Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati, SE., MM., yang juga merupakan Pangelingsir Puri Saren Agung Ubud sekaligus pemilik Taman Dedari dan The Royal Pita Maha Ubud.
Prof. Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati atau yang akrab disapa Cok De mengatakan prosesi palebon yang berlangsung di pelataran Taman Dedari menjadi momentum yang sangat luar biasa.
“Ini merupakan momen yang luar biasa, dan tidak lupa saya mengatakan kepada masyarakat agar yadnya atau upacara dilaksanakan di tempat yang suci. Banyak tempat yang ada, namun tetap dipilih dilaksanakan upacara palebon di Taman Dedari The Royal Pita Maha,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tersebut menambahkan bahwa pelaksanaan upacara di kawasan usaha pariwisata juga menjadi contoh harmonisasi antara dunia bisnis dan adat budaya Bali.
“Ini sangat bagus buat kita sebagai pelajaran dan contoh ke depan bagaimana keberadaan bisnis dan profesional bisa bersinergi dengan sosial adat di Bali,” tambahnya.
Sementara itu, putra almarhum Ida Bagus Suarbawa menyampaikan rasa terima kasih kepada Puri Saren Agung Ubud atas dukungan penuh yang diberikan dalam pelaksanaan palebon di Griya Gede Simpangan Manuaba Bunutan, termasuk penyediaan tempat pabasmian di pelataran Taman Dedari The Royal Pita Maha Ubud.
Melalui persembahan ini, Taman Dedari menyampaikan penghormatan setulus-tulusnya kepada almarhum Ida Pedanda Istri Purnama serta apresiasi kepada keluarga besar Griya Gede Simpangan Manuaba Bunutan, para sulinggih, krama adat, dan seluruh pihak yang telah ngayah demi terselenggaranya karya suci tersebut.
“Dumogi Ida Pedanda ngamolihang genah sane becik, suci, lan rahayu ring Sunya Loka,” menjadi doa penutup penuh harapan dan ketulusan dari seluruh pihak yang hadir dalam upacara sakral tersebut. (ads/bpn)












