
BALIPORTALNEWS.COM, SANUR – Broken Beach, Nusa Penida, Klungkung, siap menjadi panggung laga pembuka musim Red Bull Cliff Diving World Series 2026 yang akan digelar pada 22–23 Mei 2026. Sebanyak 24 atlet dari 14 negara akan menampilkan aksi akrobatik ekstrem dengan meloncat dari tebing setinggi 27 meter untuk kategori pria dan 21 meter untuk kategori wanita menuju perairan Samudera Hindia.
Untuk pertama kalinya digelar di Indonesia, ajang olahraga ekstrem dunia ini menghadirkan sentuhan budaya lokal Bali dan Indonesia sebagai bagian dari pengalaman para atlet maupun penyelenggaraan kompetisi.
Salah satu momen menarik terjadi saat penentuan giliran loncat. Sehari setelah tiba di Bali, Senin (18/5/2026), para atlet diajak mengikuti permainan tradisional khas perayaan kemerdekaan Indonesia, yakni lomba memasukkan pensil ke dalam botol.
Dari permainan tersebut, atlet asal Prancis Gary Hunt untuk kategori pria dan atlet asal Belanda Ginni van Katwijk untuk kategori wanita mendapat kesempatan menjadi peserta pertama yang melakukan loncatan.
Atlet asal Britania Raya, Aidan Heslop, mengaku antusias saat mengetahui Bali dipilih sebagai tuan rumah Red Bull Cliff Diving World Series.
“Ketika mendengar Bali diumumkan sebagai lokasi Red Bull Cliff Diving World Series, saya langsung sangat antusias. Saya pernah berlibur ke Bali sebelumnya, tetapi saat itu sedang dalam masa pemulihan cedera sehingga belum sempat merasakan langsung bagaimana lokasi unik di Bali untuk cliff diving,” ujarnya.
Selain permainan tradisional, para atlet juga diperkenalkan dengan budaya dan aktivitas masyarakat lokal. Mereka diajak merangkai canang sari, belajar membatik, hingga berkeliling pasar tradisional mencicipi jajanan khas Bali.
Atlet asal Australia, Xantheia Pennisi mengaku menikmati pengalaman unik tersebut. “Kami mendengar Indonesia memiliki banyak permainan tradisional yang seru. Ini pertama kalinya saya mencoba permainan seperti ini dan ternyata sangat menyenangkan,” katanya.
Nuansa budaya Bali juga akan mewarnai jalannya kompetisi di Broken Beach. Sebelum melakukan loncatan perdana, para atlet dijadwalkan mengikuti prosesi melukat bersama pemangku setempat. Suasana kompetisi juga akan diiringi alunan musik rindik serta pertunjukan tari barong dan baleganjur.
Tidak hanya menghadirkan unsur budaya, penyelenggara juga menggandeng seniman lokal dalam merancang visual platform loncatan. Konsep visual mengusung filosofi Tri Loka, yang menggambarkan harmoni tiga unsur alam semesta yakni bumi, laut, dan langit.
Penyair asal Bali, Ketut Yuliarsa, menjelaskan filosofi tersebut selaras dengan karakter olahraga cliff diving.
“Tri Loka menggambarkan harmoni tiga unsur alam semesta yang diwakili kisah Bedawang Nala (bumi), Garuda Wisnu (langit), dan Naga (laut). Spirit ini juga menggambarkan atlet yang berpijak di tebing, melintasi udara, lalu menyatu dengan laut,” jelasnya.
Komandan Pusat Teritorial Angkatan Laut (Danpusteral), Laksamana Pertama TNI Albertus Agung Priyo Suseno, mengatakan TNI AL memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kompetisi internasional ini, termasuk melalui pengamanan laut dan kesiapan armada penyelamatan.
“Kerja sama antara Red Bull dan TNI AL mencerminkan komitmen bersama dalam mendukung promosi pariwisata bahari Indonesia sekaligus memastikan aspek keselamatan dan kelancaran operasional selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali, A.A. Made Anggia Widana, menilai ajang tersebut sejalan dengan pengembangan sport tourism yang saat ini menjadi salah satu fokus pemerintah.
Menurutnya, penyelenggaraan Red Bull Cliff Diving di Nusa Penida menjadi simbol pengembangan destinasi wisata Bali yang lebih merata dan tidak hanya terpusat di Bali Selatan.
Setelah seri pembuka di Bali, Red Bull Cliff Diving World Series 2026 akan berlanjut ke Amerika Serikat, Denmark, Bosnia & Herzegovina, Italia, dan Oman.(r/bpn)












