BALIPORTALNEWS.COM, SAN DIEGO – Sebuah tinjauan ilmiah terbaru mengungkap temuan mengejutkan mengenai cara kerja otak manusia. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cyberpsychology, Behaviour, and Social Networking menyimpulkan bahwa otak manusia saat berada dalam kondisi hipnosis menunjukkan pola kerja yang mirip dengan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) seperti ChatGPT.
Kajian ini ditulis oleh sejumlah peneliti, termasuk Brenda K. Wiederhold dari Virtual Reality Medical Centre di San Diego dan Fabrizia Mantovani dari University of Milano-Bicocca. Para penulis berargumen bahwa pikiran manusia yang sedang dihipnosis dan sistem AI berbasis LLM memiliki sejumlah kesamaan mendasar dalam cara memproses informasi.
Menurut penelitian tersebut, terdapat tiga karakteristik utama yang membuat keduanya serupa. Pertama adalah dominasi proses otomatis. Saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis, aktivitas otak cenderung berpindah ke mode otomatis. Otak memberikan respons berdasarkan asosiasi cepat dan insting, sementara bagian otak yang biasanya bertugas untuk berpikir sadar, merencanakan, dan mengendalikan tindakan menjadi kurang aktif. Pola ini dinilai mirip dengan cara kerja LLM yang memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola statistik dari data pelatihan.
Kesamaan kedua adalah melemahnya pemantauan eksekutif. Dalam kondisi hipnosis, aktivitas di bagian otak yang berfungsi mendeteksi kesalahan menjadi lebih rendah. Hal ini membuat seseorang lebih mudah menerima kontradiksi atau ingatan yang tidak akurat. Fenomena ini dinilai serupa dengan kecenderungan LLM menghasilkan informasi yang keliru namun terdengar meyakinkan, yang sering disebut sebagai “halusinasi” dalam sistem AI.
Karakteristik ketiga adalah ketergantungan yang sangat tinggi pada konteks. Orang yang dihipnosis dapat menerima sugesti yang bertentangan dengan logika atau pengalaman sensorik. Dalam AI, hal serupa terjadi melalui fenomena yang dikenal sebagai “prompt injection”, yakni ketika instruksi tertentu dapat mengubah perilaku sistem atau membuatnya menerima premis yang tidak benar.
Peneliti juga menyoroti adanya “celah makna” antara kelancaran respons dan pemahaman yang sebenarnya. Dalam hipnosis, seseorang dapat mengucapkan pernyataan yang terdengar mendalam namun kehilangan koherensi setelah kondisi trance berakhir. Hal serupa juga terjadi pada LLM, yang mampu menghasilkan teks kompleks tanpa benar-benar memiliki pemahaman, niat, atau pengalaman subjektif.
Temuan ini dinilai memiliki implikasi penting bagi pengembangan kecerdasan buatan di masa depan. Para peneliti menyarankan perlunya sistem pengawasan internal pada AI, yang disebut sebagai “sistem kekebalan kognitif”. Konsep ini terinspirasi dari mekanisme pengawasan dalam otak manusia yang berfungsi mendeteksi kesalahan atau inkonsistensi.
Penelitian ini juga sejalan dengan pandangan Yann LeCun, Kepala Ilmuwan AI di Meta, yang menyatakan bahwa untuk mencapai kecerdasan buatan umum (AGI), pengembangan AI tidak cukup hanya dengan meningkatkan skala model yang ada, tetapi juga memerlukan perancangan ulang arsitektur sistem secara fundamental.
Studi terbaru dari Anthropic turut memperkuat temuan tersebut. Penelitian mereka menunjukkan bahwa bahkan model AI yang sangat canggih masih memiliki kemampuan pemantauan diri yang rapuh dan tidak konsisten.
Salah satu penulis kajian ini, Giuseppe Riva, Direktur Human Technology Lab di Università Cattolica del Sacro Cuore, menilai hipnosis dapat menjadi lensa penting untuk memahami batas kemampuan AI saat ini. Menurutnya, mempelajari bagaimana otak manusia menggabungkan proses otomatis dengan kontrol metakognitif dapat membantu menciptakan sistem AI yang tidak hanya fasih berbahasa, tetapi juga lebih dapat dipercaya dan aman digunakan. Diterbitkan pertama kali di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info. (*/bpn)













