Lestarikan Budaya dan Permainan Tradisional, FAD Denpasar Utara Gelar Jelantik
Lestarikan Budaya dan Permainan Tradisional, FAD Denpasar Utara Gelar Jelantik. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR — Perkembangan teknologi di era digitalisasi membawa banyak manfaat, namun juga memunculkan tantangan serius, terutama pergeseran budaya dan pola perilaku masyarakat. Dampak tersebut paling terasa di kalangan anak-anak dan remaja yang kini semakin lekat dengan penggunaan gawai dalam kesehariannya.

“Termasuk pergeseran budaya dan perilaku di kalangan anak-anak dan remaja, misalnya interaksi yang kini lebih didominasi perangkat gadget,” ujar Ketua Forum Anak Daerah Kecamatan Denpasar Utara (FAD Denut), Ni Putu Keysia Aurellia Falisha, saat ditemui, Senin (2/2/2026).

Menjawab tantangan tersebut, FAD Denut menggagas program unggulan Jelantik (Jelajah Seni dan Tradisi Khas Bali) sebagai upaya menanamkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya Bali.

“Program ini digelar untuk memperkenalkan dan mengajak generasi muda mencintai serta menekuni budaya Bali,” ujar siswi kelas XII SMA Negeri 3 Denpasar tersebut.

Program Jelantik yang menjadi bagian dari agenda FAD Denut periode 2025–2027 ini secara khusus menyasar bidang seni tari dan permainan tradisional, dan dilaksanakan selama dua hari, 23–24 Januari 2026. Kegiatan diikuti ratusan siswa SD Negeri 17 Dauh Puri dan SD Negeri 5 Tonja, yang dipusatkan di Kantor Camat Denpasar Utara serta Wantilan Pura Lokanatha.

Kegiatan hari pertama difokuskan pada pengenalan gerak dasar dan praktik Tari Pendet, yang diikuti siswa SD Negeri 17 Dauh Puri dan dilaksanakan di Kantor Camat Denpasar Utara.

“Kegiatan ini dipandu oleh kolaborator dari Ekstrakurikuler Wong Samar SMA Negeri 8 Denpasar,” jelas Keysia.

Tari Pendet dipilih karena merupakan tarian tradisional Bali yang relatif mudah dipelajari oleh pemula, khususnya anak-anak sekolah dasar.

“Harapannya, peserta lebih mudah memahami dan turut melestarikan seni tari Bali,” tambahnya.

Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka mengikuti setiap gerakan yang diajarkan. Bahkan, para siswa juga diberi kesempatan menampilkan hasil latihan dalam bentuk pagelaran sederhana.

“Mereka sangat antusias dan percaya diri saat menampilkan hasil latihan,” ujarnya.

Pada hari kedua, kegiatan berlanjut dengan pengenalan permainan tradisional Bali yang digelar di Wantilan Pura Lokanatha. Panitia Jelantik berkolaborasi dengan Sanggar Kukuruyuk untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada siswa SD Negeri 5 Tonja.

“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak-anak semakin jarang mengenal permainan tradisional. Kegiatan ini bertujuan mempertahankan eksistensi permainan tradisional agar tetap lestari,” jelas Keysia.

Dua permainan tradisional yang diperkenalkan adalah Penyu Mataluh dan Kulkuk, yang kini mulai jarang dikenal oleh anak-anak. Selain sebagai hiburan, permainan ini dinilai mampu menanamkan nilai kerja sama, sportivitas, dan kemampuan bersosialisasi.

Para siswa tampak aktif dan bersemangat mengikuti setiap instruksi gerakan dan lagu khas dari kedua permainan tersebut. Panitia dan kolaborator pun turut berbaur, menciptakan suasana yang meriah dan penuh kebersamaan.

Melalui program Jelantik, FAD Denut berharap dapat menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian generasi muda terhadap budaya Bali, sekaligus menjadi langkah awal dalam menjaga seni dan tradisi agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Hal ini sejalan dengan pandangan salah satu kolaborator, Suhita, perwakilan Ekstrakurikuler Wong Samar SMA Negeri 8 Denpasar.

“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi pihak lain untuk ikut berperan melestarikan budaya Bali di kalangan generasi muda,” ujarnya.

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News