OJK
OJK: Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga Hadapi Prospek Ekonomi 2026. Sumber Foto : OJK

BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK yang digelar pada 24 Desember 2025.

OJK mencatat kondisi perekonomian global menunjukkan perbaikan secara umum, meskipun masih diwarnai sejumlah tantangan. Kinerja ekonomi Amerika Serikat relatif solid, sementara perlambatan ekonomi Tiongkok masih berlanjut. Untuk tahun 2026, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi seiring meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara.

Perbedaan arah kebijakan moneter global turut memengaruhi pasar keuangan. Pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve dan Bank of England mendorong penguatan pasar saham global, sementara kenaikan suku bunga Bank of Japan berdampak pada pelemahan pasar obligasi global.

Di tengah kondisi tersebut, perekonomian domestik Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Inflasi inti tercatat meningkat secara terkendali, sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi, serta neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus.

Baca Juga :  Asuransi Astra Gelar Literasi Keuangan untuk Ibu PKK di Dauh Puri Kauh

Sejalan dengan sentimen positif, pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja yang solid. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.646,94 pada 31 Desember 2025, menguat 22,13 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan mencetak rekor all-time high sebanyak 24 kali sepanjang tahun.

Rata-rata nilai transaksi harian saham pada Desember 2025 juga mencapai rekor tertinggi sebesar Rp27,19 triliun. Peningkatan likuiditas tersebut didorong oleh peran aktif investor ritel domestik yang proporsinya naik menjadi 50 persen sepanjang 2025.

Dari sisi investor, jumlah investor pasar modal meningkat signifikan menjadi 20,36 juta atau tumbuh 36,95 persen yoy. Penghimpunan dana di pasar modal pun melampaui target, dengan total penawaran umum mencapai Rp274,80 triliun sepanjang 2025.

Di pasar obligasi, kinerja tetap menguat dengan investor nonresiden mencatatkan arus dana masuk. Sementara itu, Bursa Karbon Indonesia mencatatkan total volume transaksi 1,81 juta ton CO₂ ekuivalen dengan nilai transaksi mencapai Rp87 miliar sejak diluncurkan.

Kinerja sektor perbankan nasional menunjukkan penguatan intermediasi dengan risiko yang terjaga. Pada November 2025, kredit perbankan tumbuh 7,74 persen yoy menjadi Rp8.314,48 triliun, terutama ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 12,03 persen yoy menjadi Rp9.899,07 triliun, mencerminkan likuiditas perbankan yang memadai. OJK mencatat rasio kecukupan modal (CAR) perbankan tetap tinggi di level 26,05 persen, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di level rendah.

Baca Juga :  OJK Ungkap Tren Positif Kredit dan Investasi pada April 2026

Untuk tahun 2026, OJK memproyeksikan kinerja perbankan tetap solid dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang stabil, ditopang kualitas aset dan permodalan yang kuat.

Di sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun, OJK menilai kondisi industri secara umum tetap stabil dengan tingkat solvabilitas yang tinggi. Total aset industri asuransi mencapai Rp1.194,06 triliun, sementara aset dana pensiun tumbuh 10,72 persen yoy menjadi Rp1.662,16 triliun.

Sektor lembaga pembiayaan juga mencatatkan pertumbuhan positif, termasuk industri pinjaman daring dan pergadaian. OJK terus memperkuat pengawasan dan penegakan ketentuan guna menjaga integritas industri serta melindungi konsumen.

OJK menegaskan akan terus mencermati perkembangan global dan domestik serta memperkuat koordinasi kebijakan guna memastikan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dalam menghadapi tantangan perekonomian tahun 2026. (*/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News