
BALIPORTALNEWS.COM, MANGUPURA – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai memperkuat komitmen pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui Program Injourney Airports Alam Lestari, yang direalisasikan dengan penanaman 30.000 pohon endemik seperti cempaka kuning, cempaka putih, nagasari, dan sandat. Program ini merupakan bagian dari gerakan Satu Juta Pohon yang dilaksanakan serentak di seluruh kantor cabang PT Angkasa Pura Indonesia, sekaligus memperingati Hari Pohon Sedunia.
Direktur Human Capital PT Angkasa Pura Indonesia–Injourney Airports, Adi Nugroho, menyampaikan bahwa Injourney Airports terus berkomitmen memperkuat ekonomi rakyat melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
“Kami menjadikan Desa Bongkasa Pertiwi sebagai desa binaan Injourney Airports. Bersama Pemerintah Provinsi Bali, Kabupaten Badung, dan desa, kami ingin meningkatkan potensi pariwisata. Jika pariwisata daerah tumbuh, bandara pun akan ikut bertumbuh,” jelasnya, Jumat (5/12/2025).
Menurutnya, selain aspek lingkungan, perusahaan juga memberikan pelatihan hospitality dan pemahaman lintas budaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal dalam menghadapi kunjungan wisatawan internasional yang kian beragam.
General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab, menegaskan bahwa gerakan penanaman pohon ini sejalan dengan misi nasional mengenai pelestarian sumber daya alam.
“Sebanyak 30.000 pohon kami tanam di titik strategis di Kabupaten Badung sebagai ruang hijau sekaligus kontribusi mitigasi perubahan iklim di Bali,” ujarnya.
Selain penanaman pohon, Bandara Ngurah Rai juga meresmikan Desa Bongkasa Pertiwi sebagai Desa Binaan.
“Penetapan ini bertujuan mempercepat pengembangan desa wisata dengan memperkuat potensi UMKM dan atraksi lokal agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” imbuh Syaugi.
Melalui kombinasi konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi desa, Bandara I Gusti Ngurah Rai berharap program ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar bandara.
“Kontribusi kami tidak hanya melalui layanan penerbangan, tetapi juga harus berdampak bagi lingkungan dan masyarakat Bali,” tutup Syaugi.(r/bpn)












