CEO & Founder TUKU, Andanu Prasetyo
CEO & Founder TUKU, Andanu Prasetyo sedang membuat kopi. Sumber Foto : tis/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Setelah sukses hadir di berbagai kota di Indonesia, Toko Kopi Tuku (TUKU) kini resmi membuka toko ke-65 di Renon, Denpasar, Bali. Kehadiran ini menegaskan komitmen TUKU untuk terus hadir secara hangat, relevan, dan lokal, sambil beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat melalui pendekatan yang kontekstual dan inklusif.

Dibangun atas dasar kepercayaan dan konsistensi, TUKU tumbuh sebagai gerakan sosial kopi yang mempererat hubungan antar tetangga dengan memperluas akses, menanamkan prinsip keberlanjutan, serta menciptakan produk yang dekat dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

Bali dipilih bukan hanya karena statusnya sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga karena kehidupan sosial yang hangat, beragam, dan erat dengan budaya berkumpul. Lebih dari itu, Bali menjadi jendela dunia bagi Indonesia, tempat wisatawan mancanegara dapat merasakan cita rasa, cerita, dan nilai-nilai lokal secara langsung.

“Sejak awal, TUKU lahir dari niat sederhana untuk bikin kopi yang bisa dinikmati tetangga. Di Bali kami datang dengan semangat yang sama, yakni: sederhana, hangat, dan tumbuh bersama masyarakat. Namun kami juga melihat Bali sebagai ruang strategis untuk membuka jalan menuju global tanpa meninggalkan akar kami di Cipete, Jakarta Selatan,” ujar CEO & Founder TUKU, Andanu Prasetyo, Rabu (8/10/2025).

Pemilihan lokasi di Renon, Denpasar, mencerminkan semangat tersebut, yakni mengakar secara lokal, namun terbuka untuk dunia. Renon dinilai sebagai titik pertemuan antara kawasan lokal dan komersial, sehingga menjadi lokasi ideal bagi kehadiran toko pertama TUKU di Bali.

TUKU Renon hadir dengan desain sederhana namun bermakna. Toko ini mengusung suasana hangat untuk saling menyapa dan berbagi cerita, di mana kopi bukan sekadar produk, melainkan medium membangun koneksi dan mengenal nilai lokal.

Komitmen TUKU terhadap keberlanjutan juga tercermin dari konsep interiornya. Material daur ulang seperti limbah kopi digunakan untuk tegel lantai, sementara permukaan meja terbuat dari plastik daur ulang. Elemen arsitektur lokal seperti krepyak atau pintu kayu berornamen khas Jawa dan Bali juga dihadirkan untuk menciptakan suasana yang akrab dan berakar pada tradisi.

“Setiap toko TUKU kami rancang agar memberi pengalaman yang hangat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Di Bali, kami ingin menghadirkan ruang sederhana tapi penuh makna, tempat pelanggan bisa menikmati kopi sekaligus cerita di baliknya. Sustainability menjadi bagian penting dari pengalaman ini, karena kami percaya menikmati kopi hari ini harus sejalan dengan menjaga bumi untuk esok hari,” kata Chief Experience Officer TUKU, Vella Siahaya.

Kehadiran TUKU di Bali diharapkan menjadi awal babak baru perjalanan jenama kopi lokal ini, dengan membawa semangat #BertetanggaBaik ke level global. TUKU ingin agar tokonya bukan hanya menjadi tempat membeli kopi, melainkan ruang singgah yang menghadirkan pengalaman akrab dan bermakna dari menyapa barista hingga memahami cerita di balik setiap sajian.

Berawal sejak 2015 di Cipete, Jakarta Selatan, TUKU dikenal lewat Es Kopi Susu Tetangga, yakni minuman hasil perpaduan kopi, susu, dan gula aren yang awalnya dibagikan kepada tetangga sekitar. Dari sana, TUKU tumbuh berkat semangat gotong royong dan cerita antar tetangga, hingga kini hadir di berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Jawa Timur, Yogyakarta, Bandung, dan Bali.

Dengan kehadiran toko ke-65 di Renon, TUKU terus berkomitmen meningkatkan apresiasi terhadap kopi lokal, memperkuat rantai nilai dari hulu ke hilir, dan memperkenalkan wajah Indonesia yang ramah serta berkelanjutan kepada dunia.(tis/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News