BALIPORTALNEWS.COM, BANGLI – Dari rumah kosong warisan kakek, kini lahir sebuah tempat makan unik bernama Pondok Umapadi. Mengusung konsep tradisional dengan nuansa rumah klasik, tempat ini menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin menikmati sajian khas desa.
Pondok Umapadi berlokasi di Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli. Awalnya, bangunan ini hanyalah rumah peninggalan kakek dari sang pemilik, Desak Ariani. Setelah sang kakek meninggal, rumah tersebut dibiarkan kosong. Desak kemudian dipercaya untuk merawatnya, mulai dari menyalakan lampu di malam hari, membersihkan rumah, hingga memberi makan hewan peliharaan seperti ayam dan burung.
Keseharian Desak Ariani rutin ia bagikan melalui akun TikTok @pondok.umapadi. Aktivitas sederhana seperti menanam bunga hingga memasak ternyata menarik perhatian warganet. Videonya viral dan banyak di-repost berbagai akun. Respon positif netizen bahkan membuat banyak orang ingin berkunjung langsung ke rumah pondok tersebut.
Setelah konsisten berbagi konten selama enam bulan, popularitasnya semakin meningkat. Hingga akhirnya, tepat satu tahun kemudian, Desak memutuskan untuk membuka Pondok Umapadi untuk umum dengan menyuguhkan beragam menu tradisional.
Menu andalan Pondok Umapadi antara lain Lak-Lak Umapadi, kudapan tradisional berbahan campuran santan dan daun suji, serta Nasi Sela lengkap dengan lauk pindang, sayur paku urab, sambal kecombrang, dan pelengkap lainnya. Menariknya, sebagian besar bahan diambil langsung dari kebun belakang rumah, seperti sayur paku, bunga kecombrang, hingga kelapa, sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien.
Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati berbagai pilihan menu lain seperti tipat cantok, tipat kare ayam, pisang goreng, serta aneka minuman hangat dan dingin. Harganya pun sangat ramah di kantong, mulai dari Rp3.000 hingga Rp15.000.
Nama Umapadi sendiri terinspirasi dari sejarah lokasi tersebut yang dulunya merupakan lahan bertani padi gogo. Kini area itu sudah berganti menjadi kebun durian, namun nilai tradisi tetap terjaga.
Daya tarik lain Pondok Umapadi adalah bangunan kuno bersejarah, termasuk bale daja yang masih berdiri kokoh sejak tahun 1958, serta penunggu karang dari batu yang diambil langsung dari aliran Tukad di sekitar rumah.
Saat ini Pondok Umapadi buka setiap Sabtu dan Minggu, namun ke depannya Desak berencana membuka setiap hari. Ia juga menggandeng warga sekitar untuk menitipkan hasil kebun mereka agar bisa dijual di Pondok Umapadi.

Saat dihubungi pada Senin (22/9/2025), Desak mengatakan, Pondok Umapadi bukan hanya jadi tempat makan, tapi juga ruang kebersamaan. Ia ingin mengenalkan kembali masakan tradisional sekaligus membantu warga sekitar memasarkan hasil kebun mereka.
“Awalnya saya hanya ingin merawat rumah peninggalan kakek. Tidak terpikir akan jadi seperti sekarang. Tapi karena banyak yang memberi semangat lewat media sosial, saya berani membuka Pondok Umapadi untuk umum,” tambah Desak.
Dengan sentuhan tradisi dan dukungan masyarakat, Pondok Umapadi kini bukan hanya sekadar tempat makan, tetapi juga simbol pelestarian budaya dan kebersamaan warga desa.(tis/bpn)













