
BALIPORTALNEWS.COM, SEMINYAK – Delapan startup travel-tech asal Korea hadir di Bali dalam acara “Global PoC Partners Day” yang digelar Korea Tourism Organization (KTO), Kamis (11/9/2025) kemarin. Agenda ini menjadi wadah bagi perusahaan teknologi perjalanan Korea untuk menjajaki peluang kerja sama dan ekspansi bisnis dengan mitra industri pariwisata di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Program Global Proof of Concept (PoC) ini dirancang bukan hanya untuk menguji teknologi, tetapi juga untuk membuka peluang terciptanya model bisnis baru bersama mitra lokal. Tahun lalu, uji coba serupa sukses menghasilkan dua proyek nyata di Bali, yakni: Onda-Natya Hotel Group, kontrak ekspor DX Solution senilai US$120 ribu per tahun, serta Starpickers/Byeoldareogaja-Dinas Pariwisata Bali, MoU pengembangan infrastruktur keselamatan wisata sepeda motor senilai US$72 ribu per tahun.
“Lebih dari sekadar verifikasi teknologi, program ini diharapkan dapat membuktikan potensi penerapannya di pasar nyata dan menciptakan model bisnis baru bersama mitra lokal,” ungkap Executive Director of the Tourism Companies Support Department KTO, Lee Yonggeun saat ditemui, Jumat (12/9/2025).
Pada edisi kali ini, delapan startup potensial memperkenalkan teknologi dan solusi travel-tech mereka:
- H2O Hospitality – Solusi digital operasional akomodasi dengan pengalaman kerja sama bersama OTA multinasional.
- Woori Kids Plus – Produk OEM ramah lingkungan untuk hotel dan maskapai, peraih penghargaan Cosmetic 360 Paris 2022.
- UniUni – Manajemen ruang “SAVY” berbasis deep learning untuk keamanan privasi, dengan kerja sama di Malaysia.
- emCT – Layanan pengendalian terpadu fasilitas jarak jauh “VIDIAPP,” sudah berjalan di Vietnam dan AS.
- NUUA – SaaS untuk distribusi tiket pesawat, Tech Partner Singapore Airlines, serta bersertifikasi ARM Index IATA.
- Byeolttarogaja (Star Pickers) – Solusi pengendalian mobilitas kecil “RiderLog,” berekspansi ke Indonesia dan Laos.
- ONDA – Platform distribusi akomodasi dengan rekam jejak kontrak di Thailand, Jepang, dan IHTF.
- Tripbtoz – Platform perjalanan berbasis Web3 dengan dukungan investasi VC global.
Startup Korea dinilai memiliki keunggulan dalam pemanfaatan ICT, big data, serta solusi pemasaran digital yang dapat meningkatkan pengalaman wisatawan. Jika dikolaborasikan dengan potensi pariwisata Asia Tenggara, peluang kerja sama dinilai sangat besar, khususnya pada sistem reservasi pintar, solusi ramah lingkungan, dan pariwisata berkelanjutan.
Indonesia menjadi salah satu pasar utama pariwisata Korea. Pada 2024, tercatat 336.185 wisatawan Indonesia berkunjung ke Korea, meningkat 120,7% dibanding tahun 2019 (pra-pandemi). Hingga paruh pertama 2025, jumlah kunjungan sudah mencapai 187.689 orang, tumbuh 14,4% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Tren ini turut ditopang gelombang K-Culture dan kebijakan visa yang semakin mudah, termasuk kebijakan baru per 1 September 2025 yang meniadakan kewajiban melampirkan dokumen SPT.
Untuk memperkuat pasar korporasi, KTO Jakarta meluncurkan kampanye khusus bagi wisatawan insentif asal Indonesia. Setiap peserta grup insentif yang bepergian ke Korea berhak atas dukungan Rp100.000/orang (±9.000 won) yang diberikan kepada agen perjalanan.

“Melalui dukungan dan kampanye khusus ini, kami optimis pasar insentif Indonesia akan kembali menggeliat. Kami ingin menjadikan Korea destinasi unggulan, bukan hanya untuk wisata umum, tetapi juga bagi perusahaan yang mencari destinasi insentif terbaik,” ujar Lee Yonggeun.
Selain itu, KTO juga akan menggelar seminar online pada 15 September 2025 guna memperkenalkan destinasi MICE terbaru di Korea sekaligus sosialisasi program insentif.(tis/bpn)












